Pendidikan dan Perkembangan pada Anak

Alvi Rizka Aldyza

Pentingnya guru yang berkualitas demi memajukan pendidikan selalu menjadi sorotan dan timbul banyak permasalahan. Diantaranya, murid tidak akan aktif apabila gurunya tidak mengizinkan si anak untuk aktif, bahkan gurunya sendiri yang kebanyakan tidak aktif dalam proses belajar-mengajar. Di sekolah umum, kebanyakan murid diperntahkan untuk duduk dan mendengarkan pelajaran yang diajarkan, membuat catatan lalu mengerjakan tugas yang diberikan. Itu merupakan sistem pendidikan yang salah. Bagaimana anak dapat menyerap ilmu sampai permanen bila setiap hari hanya metode yang sama diterapkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Izinkanlah anak untuk bergerak aktif, tidak hanya duduk saja. Namun, keaktivannya harus tetap dikontrol, jangan terlalu berlebihan.

Usia 0-18 tahun adalah usia perkembangan (development) yang aktif secara keseluruhan, yaitu perkembangan spiritual, perkembangan fisik, perkembangan sosial, perkembangan mental/kognitif, perkembangan intelektual dan perkembangan emosional.

Untuk perkembangan spiritual, anak dibimbing dan dibina dengan agama dan kepercayaan yang dianut dan ini merupakan landasan utama bagi pembentukan pribadinya, terutama bersumber dari orang tua. Untuk perkembangan fisik, anak harus mengikuti berbagai macam aktivitas seiring dengan pertumbuhannya beranjak dewasa. Untuk perkembangan sosial, anak diajarkan untuk bekerja sama dan bersosialisasi dalam hal yang positif sebab manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Untuk perkembangan mental, anak diarahkan untuk berani dan siap menghadapi segala risiko yang harus diterima dalam menghadapi tantangan zaman agar ia bisa terus aktif dan berprestasi. Untuk perkembangan intelektual, anak diberikan ilmu pengetahuan dan wawasan kemudian diuji dengan beberapa latihan dan ujian agar mengasah otak dan mempercepat daya ingat sang anak. Untuk perkembangan emosional, anak dididik agar dapat melatih kesabaran, menahan amarah, menerima kritikan dan saran dari orang lain yang tidak sependapat dengan ikhlas.

Bermain sambil belajar adalah metode yang mudah, bermanfaat, menyenangkan, sekaligus mempererat hubungan guru dan murid. Untuk itu, setiap pelajaran yang diajarkan disisipi minimal 1 games saja atau semacamnya yang membuat anak lebih mudah mengingat materi yang diajarkan. Misalnya, untuk tingkat Sekolah Dasar. Agar anak dapat mengetahui perbedaan antara persegi dan persegi panjang, maka anak diperintahkan untuk berdiri dan berbaris membentuk persegi dan persegi panjang. Selain mengetahui bentuk persegi dan persegi panjang, anak juga diajarkan tentang kekompakan dan saling bekerja sama. Mudah bukan?? Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mudah mengingat sekaligus refreshing agar tidak membuat suasana kelas membosankan.

Nah… hal ini bisa membuat anak betah dan berkeinginan tinggi untuk pergi sekolah karena sang anak yakin bahwa sekolah adalah tempat yang asyik dan menyenangkan!!

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alvi R Aldyza. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s