Pak Chondro Widarto, Sosok TNI yang kubanggakan!!

Alvi Rizka Aldyza


TNI… Tentara Nasional Indonesia. Banyak orang yang ketika mendengar nama tersebut tampak berekspresi sama. Biasanya, kesan yang ada yaitu seram dan mahal senyum. Sebuah ciri khas orang-orang yang berseragam loreng dan sering menjadi pusat perhatian terutama perhatian anak-anak balita yang sebagian takjub, tetapi sebagian ketakutan karena langkah TNI yang tegap, tubuh kekar dan gagah perkasa itu. Namun, itu semua salah. Itu hanyalah kesan yang tampak dari luar. However, mereka juga manusia. Yang berbeda hanyalah profesi. Dan saya sudah membuktikannya sendiri bahwa TNI tidaklah seseram yang dikira selama ini.

Jika Anda membaca majalah POTRET edisi 31, bagian My School, Anda akan melihat sebuah artikel dengan judul “AKSI TERJUN PAYUNG TNI AU” yang didalamnya tercantum nama Pak Chondro. Nah… beliaulah salah satu TNI AU yang sempat saya wawancarai ketika saya mengikuti Pelatihan Aero Modelling dan Saka Dirgantara di Landasan Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. Beliaulah sosok yang sangat…………saya banggakan. Mau tau? Bagaimana kisah hidup sosok tentara yang gagah ini? Simak baik-baik!! J

Alvi sedang mewawancarai Pak Chondro

Nama lengkap beliau adalah Chondro Widarto yang lahir dari sebuah keluarga sederhana pada hari Senin, 6 November 1961 tepatnya pada pkl 03.00 malam di sebuah daerah yang pernah diguncang gempa di Pulau Jawa yaitu Bantul, Yogyakarta. Beliau lahir ketika bulan menampakkan seluruh tubuhnya yang bulat dengan pantulan cahaya matahari yang lembut, bulan purnama. Karena itulah, beliau diberi nama ‘Chondro’ yang artinya “bulan”. Jadi, orang tua Pak Chondro berharap beliau bisa seperti bulan yang cahayanya menyinari Bumi begitu lembut dan menyusup ke lubuk hati yang dalam. Dan itu benar. Beliau merupakan sosok yang baik hati, ramah, lemah lembut namun tetap tegas.

Pak Chondro adalah anak ke-8 dari 14 bersaudara. Kaget? Memang begitu pemikiran masyarakat Indonesia tempo dulu, bahwa semakin banyak anak, banyak rezeki.

Saat duduk di bangku SMP, pertama kali mengenal cita-cita, sosok yang mudah bersosialisasi ini memang sudah berangan-angan untuk menjadi seorang TNI, apalagi salah satu kakak beliau pun adalah seorang TNI AD. Tetapi, saat itu beliau berpikir pesimis. Menjadi TNI itu sungguh sulit, sukar dan rumit. Harus berlari dengan aturan waktu, push up, sit up dan lain-lain.

Akhirnya, beliau tak lagi berpikir pesimis. Pada umur 13 tahun, setelah Pak Chondro melaksanakan Shalat Shubuh, beliau selalu berlari dengan jarak 5-10 km dan rutin dilakukan setiap harinya. Setelah itu, beliau menyapu halaman rumah dan berangkat ke sekolah. Sungguh melelahkan, bukan? Tetapi, semangat juang beliau mengalahkan rasa penat dan cucuran keringat. Inilah yang membuat Pak Chondro sering mendapat juara dan penghargaan atas prestasi “lari” yang beliau miliki.

Setelah lulus SMA, Pak Chondro mendapat kabar dari Semarang bahwa ada pendaftaran bagi calon TNI AD. Tentu saja beliau berniat untuk itu meski harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak. Beliau tetap bertekad bulat dan penuh semangat. Dan akhirnya Pak Chondro berangkat seorang diri ke Semarang untuk mengikuti test menjadi TNI AD.

Setelah mengikuti test dan tinggal menunggu hasil, ternyata beliau tidak lulus karena beliau mengalami Varises. Frustasi, beliau kembali ke kampung halaman melanjutkan kuliahnya di SPB. Padahal, di SPB beliau sangat aktif namun beliau tidak terlalu tertarik. Pak Chondro masih tetap bertekad untuk menjadi TNI sambil menjalani pengobatan bagi penyakitnya.

Beberapa selang waktu, Pak Chondro kembali mengikuti test menjadi TNI AD. Tetapi, kali ini pun Pak Chondro tidak lulus. Memang cobaan yang berat ketika kita mencari kesempatan kedua tetapi malah mendapat hasil yang tidak memuaskan dan jiwa menjadi pupus. Namun, hanya sampai disitukah semangat juang Pak Chondro?

Tentu saja tidak. Pada usia yang ke-21, Pak Chondro mengikuti test menjadi TNI AU yang saat itu berpusat di Solo. Saat itu juga, beliau mempunyai firasat bahwa ia pasti akan lulus. Pucuk dicinta ulam tiba! Beliau diterima. Dan Alhamdulillah penyakit varises beliau sudah sembuh. Tak henti-hentinya beliau mengucap syukur pada Allah Yang Maha Kuasa. Namun, beliau dituduh lulus karena ‘amplop’ alias ‘sogok’ alias ‘suap’ alias……kolusi. Karena mana mungkin anak dari keluarga sederhana bisa lulus menjadi tentara. Alhamdulillah… ternyata itu semua hanya sebatas uji mental, tidak serius. Dan Alhamdulillah Pak Chondro pun menghadapinya dengan sabar, tegas dan masuk akal hingga tak ada yang meragukan kelulusan beliau.

Banyak prestasi yang kembali diukir oleh Pak Chondro, diantaranya Juara 3 lari dengan jarak 1.900 meter di PASI, Juara 2 Lari Marathon Mini, Juara 3 di Medan (1992) dan masih banyak lagi. Karena itulah, beliau dipilih untuk mengikuti Sekolah Terjun di Bandung. Lho? Apa hubungannya lari dengan terjun? Saya sendiri tidak terlalu tahu. Namun, saya yakin itu semua berkat kegigihan Pak Chondro dalam melakukan sesuatu. Lari saja sudah profesional dan banyak mengukir prestasi? Bagaimana dengan terjun?

Untuk pertama kalinya, pada hari Selasa bulan September Pak Chondro melakukan aksi terjun bebas setelah mendapatkan bimbingan Sekolah Terjun di Bandung. Berhasil! Dan sejak saat itulah, beliau mulai menekuninya dan hingga kini, beliau merupakan penerjun profesional yang luar biasa!! Saya dan keluarga besar Fajar Hidayah pernah menyaksikan bagaimana Pak Chondro melakukan aksi terjun payung dan mendarat dengan sempurrrrrrrna!! It’s AMAZING……………

Pak Chondro benar-benar berhati baik dan lembut. Ketika saya bertanya, jika Pak Chondro menghadapi seseorang yang hingga kini setelah MoU telah disahkan, namun ia masih menyimpan rasa dendam terhadap orang-orang yang berseragam loreng seperti Bapak, bagaimana Pak Chondro akan menghadapi dan menanggapinya? Saya sama sekali tak menyangka bahwa Pak Chondro akan menjawab dengan lugas. “ Saya akan menarik simpatinya dengan perlahan dan terus menarik simpatinya untuk mendukung kami sebagai TNI.” Salut! Jadi saya yang merasa simpati dengan beliau.

Banyak hikmah yang bisa dikutip dari jembatan hidup Pak Chondro yang penuh liku ini. Diantaranya adalah jangan merasa minder atau canggung hanya karena harta yang kurang memadai, namun canggunglah jika Anda kurangnya ilmu dan wawasan di era modern ini, pantang menyerah, optimis, memiliki semangat yang tinggi, sabar, dan banyak sekali hal-hal positif yang bisa dipetik dari kisah hidup seorang Pak Chondro ini.

Sungguh… Pak Chondro Widarto adalah sosok TNI yang saya banggakan! Sosok tentara yang lemah lembut dan ramah tamah ini tetap tegas dan selalu dapat diandalkan. Sosok bapak yang menjadi tulang punggung keluarga, sosok sahabat yang pantas menjadi panutan, sosok asisten yang patut dibanggakan, sosok pejuang yang gagah berani berjuang dalam pertahanan dan keamanan Nusantara.

Sungguh… Pak Chondro Widarto adalah sosok tentara yang saya banggakan dan pantas untuk diacungi 2 jempol. TERUS BERJUANG!!

Good luck, Sir!!

Hope Allah Swt always bless n protect you!!

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alvi R Aldyza. Bookmark the permalink.