LEZATNYA PERSAHABATAN

Oleh Alvi Rizka Aldyza

Hari ini adalah hari ke 23 Ramadhan. Seminggu lagi, Idul Fitri akan tiba. Misha berharap ia sempat bermaafan dan dimaafkan oleh semua orang yang ada di sekelilingnya. Karena Idul Fitri memang momen yang tepat untuk saling memaafkan satu sama lain.

Suatu malam, di kamar tidurnya Misha teringat pada Adit, sahabat cowoknya yang sebulan lalu bermasalah dengannya. Adit betul-betul mengecewakan Misha. Saat itu, Adit berjanji pada Misha untuk datang pada ulang tahunnya yang ke-17. Sebab ia hanya pernah datang sekali saat Misha berulang tahun yang ke-15. Tetapi, ternyata Adit tidak hadir dengan alasan neneknya masuk rumah sakit. Bahkan ia tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dan ternyata, Rina, sahabat Misha melihat nenek Adit sehat-sehat saja. Tentu saja Misha marah dan Adit pun tidak meminta maaf. Sampai detik ini, mereka tidak lagi saling berkomunikasi. Batang hidung pun tak kelihatan, rumahnya kosong, ditambah lagi nomor HP Adit tidak bisa dihubungi. Ini membuat Misha tambah kesal.

Mengingat hal ini, Misha tak tau berbuat apa. Mana mungkin marah dalam keadaan yang berlarut-larut. Memang, kekesalannya berkurang sebab ia berpuasa, tapi masih ada secuil frustasi yang membuat ia terus berpikir tentang keberadaan Adit sekarang.

1 message received… suara sms mengangetkan lamunannya. Ia langsung membuka HP. “Hmm… nomor baru..” pikirnya. Isi sms tersebut adalah…

Hi Misha. Ap kbr?? Qu hrap qmu baik2 sja dsna. Ga sprti aq dsini. Walopun telat, aq mo ngucapin met ultah soubat kecil qu..moga sllu ingt pda Allah Yg Maha Kuasa krn udh ksi kmu umur panjang.. n dah ksih sobat kya’ aq nie.. hehehe.. J qmu tau qan npa aq ga bsa hadir?? Maaf ya… By ur bestfriend: Aditya.
Sejenak Misha berfikir apakah benar ini Adit. Dan apa maksudnya ga sprti aq dsini. Saking penasarannya, ia menelepon nomor tersebut. “Ada NSPnya!”

Maafkanlah.. bila ku selalu.. membuatmu marah dan benci padaku.. kulakukan itu semua.. hanya tuk  buatmu bahagia.. mungkin ku cuma tak bisa pahami.. bagaimana cara.. tunjukkan maksudku.. Aa…ku..cuma ingin jadi… terbaik untukmu…

Tidak ada jawaban. Bahkan sampai tiga kali ia menghubunginya. Sejenak, hatinya luluh mendengar NSP itu. Tapi, kenapa Adit harus berbohong padanya?? Itu yang selama ini menjadi tanda tanya besar bagi Misha, yang sampai detik ini pun tak ada jawabnya. Mereka sudah bersahabat selama kurang lebih 5 tahun. Dan ia mengerti bagaimana Adit yang sebenarnya. Tapi, kali ini hatinya aneh. Perasaannya, benci tapi rindu.

“Terlalu sulit untuk memaafkanmu, Adit. Kau memang sahabatku, tapi itu dulu. Sekarang.. udahlah.. akhiri semua..” ujar Misha pada dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca. Tak sanggup menahan sakit hatinya.

Ia segera beranjak ke kasur. Hendak menutup kelopak mata yang sangat lelah hingga mengeluarkan butiran-butiran bening dari pelupuknya. Ia berharap segera melupakan Adit dan mencari sahabat cowok yang baru. Ya!! Itulah misi dia selanjutnya…

NN

Minggu, 1 Syawal 14xx H..

Allahu akbar 3x…

Laailaaha illallahu Allahu Akbar..

Allahu akbar walillahilhamd..

Takbir menggema ke segala penjuru. Misha sangat gembira hari ini sebab dapat bermaafan dengan semua orang. Dan ia yakin, tak ada yang tak bahagia menyambut bulan yang penuh berkah ini dimana semua orang hidup dengan rukun, damai dan sejahtera. Setelah melaksanakan shalat Ied dan bersilaturrahmi ke rumah tetangga, Misha mengambil HP nya dan menyebarkan ucapan selamat Lebaran kepada teman dan kerabatnya. Sebuah nomor muncul diiringi dengan 1 pesan singkat.

Temui aq d taman dekat rumahmu.. maafkan aq..

Misha yakin ini adalah orang yang dikenalnya. Ia berfikir panjang terlebih dahulu. “Ini kan lebaran. Aku udah janji untuk meminta maaf dan memaafkan semua orang.. tapi… aahh.. aku harus pergi sekarang!!” gumamnya.

Setelah pamit, ia segera menaiki Honda Jazz hitam miliknya dan berangkat ke Taman SS dekat rumahnya.. wuuzzzzzzz…

Setibanya disana, di sebuah bangku coklat panjang di bawah pohon cemara, tampak seorang cowok berkoko coklat dengan sarung merk Gajah Duduk kotak-kotak coklat-krim yang tampak matching duduk dan sangat familiar di matanya. Tetapi agak berbeda. Ia menghampirinya dan kaget.

“ADIT !!” teriak Misha. Ia kaget melihat wajah Adit karena ada guratan luka dan sedikit memar. Adit hanya diam saja. Mereka bertatapan cukup lama. Terjadilah percakapan yang panjang antara Misha dan Adit.

“Kamu udah liat kan??” Adit memulai.

“Tunggu. Sekarang aku tanya, maumu apa??”

“Aku..minta maaf karena gak hadir di pesta ulang tahunmu. Apalagi yang ke-17. Kamu udah tau kan, nenekku sakit. Dan aku harus pulang kampung. Kamu gak membalas pesanku. Kamu marah?? Dan masih marah??”

Misha terdiam. Ia sudah menduga kata-kata itu yang keluar dari mulut Adit. Tapi, mengapa ia harus berbohong??

“Ok. Soal itu kamu bener. Tapi, kenapa kamu musti bohong sama aku?”

“Bohong apa?”

“Kok malah nanya?? Kamu bilang nenekmu sakit. Tapi buktinya, aku dan Rina liat nenek kamu baik-baik aja disini. Sehat kok!! Kalo memang gak mau datang, bilang aja.. gak perlu banyak alasan!!”

“Haah… udah kuduga!! Ok, aku akan jelasin semuanya.”

“Udah deh!! Itu udah cukup jelas!!”

“Dengar dulu. Kalo gak ngapain aku nyuruh kamu kesini??”

Misha terdiam. Adit benar. Ia pun mendengar penjelasan Adit.

“Begini!! Aku akan menceritakan yang sejujurnya. Silahkan duduk, Nona Manis!!”

Adit tersenyum. Misha segera duduk dengan jarak agak jauh.

“Sehari sebelum acara pesta ulang tahunmu, aku mendapat sms dari Tante Santi bahwa penyakit nenek kambuh dan bertambah parah. Tante gak bilang kalau nenek ada di rumah sakit daerah rumahku. Jadi, aku langsung pulang kampung. Setiba disana, tentu aja rumah kosong. Setelah aku hubungi Tante, barulah Tante menjelaskan semuanya. Dengan harapan pupus dan kecewa atas kebodohanku, aku kembali ke terminal bus untuk berangkat pulang.”

Misha mendengar penjelasan Adit dengan seksama. Hal  itu membuat Adit makin bersemangat.

“Dalam perjalanan, aku bertemu dengan 3 orang preman gang. Awalnya aku cuek aja. Tapi rupanya mereka membuntutiku dan merampok uangku. Tentu aja aku gak mau. Apalagi uangku pas-pasan untuk pulang. Aku melawan!! Langsung deh babak belur!! Digebukin abis-abisan. Makanya mukaku kaya’ gini,” Adit menunjuk guratan luka di wajahnya.

“Semua diambil oleh mereka. Alhamdulillah jam tangan kesayanganku tidak sempat diambil sebab aku lari dan bersembunyi ke pondok terdekat. Malam pun tiba. Hujan turun. Aku kelaparan. Tak sanggup menahan apa yang kualami. Nenek sakit, aku gak bisa pulang, perut keroncongan, gak ada orang lain di sekelilingku. Saat itu pula, aku teringat ulang tahunmu. Aku belum mengucapkannya. Aku sangat sedih, bahkan sampai sekarang aku masih merasakannya. Tapi apa dikata, aku gak bisa berbuat apa-apa. Esok harinya, aku menjual jam tangan kesayanganku dan hasil penjualannya kugunakan untuk makan dan pulang. Mendengar ceritaku, Tante merasa bersalah dan membelikan HP baru untukku. Nenekku pun sudah agak baikan dan tinggal di rumah Tanteku. Barulah aku menghubungimu. Begitu, Sha. Jadi, aku minta maaf Sha. Aku bener-bener gak nyangka bakal nyakitin hati kamu. Kamu mau kan maafin aku?? Apa masih ada kata maaf untukku??”

Mata Misha berkaca-kaca. Dan tak disangka setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Adit tertegun. Ia tak menyangka Misha akan menangis.

“Sha??” Adit bertanya kembali.

Tes..tes..tes… air mata terus bercucuran dari pelupuk mata Misha. Ia menutupnya dengan kedua tangannya. Adit terdiam, membiarkan Misha menangis sepuas-puasnya.

“Dit… mendengar cerita kamu tadi, aku merasa aku yang bersalah. Kenapa hanya gara-gara hal sepele aku sampai sakit hati padamu dan membuatmu khawatir?? Aku juga tak menyangka disaat aku bersenang-senang merayakan hari ulang tahunku bersama keluarga dan teman-teman, kamu harus berjuang melawan semuanya seorang diri. Bahkan jam kesayanganmu raib terjual dan babak belur begini. Hiks.. Hiks…” Misha melanjutkan tangisnya.

“Udah. Kamu gak usah minta maaf. Itu udah sewajarnya kan kamu kecewa dengan kelakuanku. Jadi, kamu mau kan maafin aku?? Ayo dong!! Ini kan lebaran,” bujuk Adit.

“Dit. Aku dah maafin kamu kok!!”

“Beneran nih?? Tulus??”

“Iya. Bener. Aku maafin kamu dengan tulus dan sepenuh hati dari lubuk hatiku yang paling dalam. Kamu tetap sahabatku,” seulas senyum muncul dari bibir manisnya.

“Alhamdulillah. Kamu salah satu dari sekian banyak orang yang pemaaf. Aku lega sekarang. Mmm… kalau gitu sekarang kita silaturrahmi ke rumah guru yuk.. ajak teman yang lain.”

“Oke deh. Yok…” Misha beranjak dari kursinya.

“Eit..eit..tunggu dulu!!”

“Napa Dit??”

“Sebelumnya, hapus dulu air matamu. Jangan keliatan sembab gitu dong. Ntar dikira macam-macam lagi…”

“Iya deh iya…” Misha tersipu malu. Mereka saling mengobrol dan bercanda seperti biasa, bahkan tampak lebih akrab dari sebelumnya.  Dengan Honda Jazz milik Misha dan Mercedes milik Adit, mobil pun melaju dengan santai.

Persahabatan itu lezat. Bahkan lebih lezat dari Pizza ala Italia. Selalu dibumbui dengan kepercayaan, cinta dan kasih sayang. Jangan pernah kecewakan sahabatmu. Jagalah persahabatan selama ia masih ada di sampingmu, selama ia ada untukmu, selama ia masih ada di dunia ini…

Karya  : Alvi Rizka Aldyza

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alvi R Aldyza. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s