Ketika Dia Kurindukan

Oleh Alvi Rizka Aldyza

Sungguh bahagia hati ini tatkala hadir sebuah kebahagiaan dengan berbagi keceriaan, tak mengenal usia, jenis kelamin, asal, ras, bahkan agama, asalkan hati mampu terpaut dalam sebuah makna. Suatu pertemuan yang tak pernah ada sesal dan perasaan sia-sia dan terkadang dijerat dengan kesalahpahaman dan pertengkaran. Namun, itu semua hanyalah masalah biasa yang harus dinonaktifkan. Sebab jalinan ini merupakan sebuah jalinan kompleks yang tidak mengenal masa aktif. Selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus dan selama masih ada cinta yang tak pernah pudar dalam jiwa dan lubuk hati masing-masing.

Itulah makna persahabatan…

Meski aku selalu mengiyakan pepatah setiap pertemuan pasti ada perpisahan, namun ada kalanya aku tak sanggup menerima hal itu. Terlalu berat! Walau tak masalah dalam segi fisik, namun dari segi psikis dan rohani sungguh menyakitkan menghadapi kata “perpisahan”. Mengalir deras air mata ini, tak bisa kukendalikan setiap air mata yang menetes, ketika aku harus berpisah dengan orang-orang yang sangat aku cintai.

Tidak terkecuali sahabat. Meskipun mereka bukan saudara, hanya memiliki hubungan dari nenek moyang kita (Adam dan Hawa), sahabat seperti keluarga yang selalu memberikan kesan tersendiri bagi hidupku. Sahabat bak peri yang mengulurkan tangannya dengan senyum penuh ikhlas disaat aku membutuhkannya. Sahabat bagaikan angin sejuk yang pernah berhembus dimana aku selalu merasakan kesegaran di setiap tarikan nafas dari celah paru-paruku. Sahabat laksana lukisan tiga dimensi yang memiliki gambar beda namun saling berkaitan dan memberikan warna-warni dalam hidupku. Bahkan, aku kehabisan kata-kata untuk mengartikan seorang sahabat yang sangat berarti bagiku.

Apa yang akan kau tanggapi, kalau aku bertanya, “apakah arti seorang sahabat bagimu?” Apa yang terpikir olehmu, jika aku bertanya, “apa yang sudah kau berikan, kau tunjukkan dan kau curahkan pada sahabatmu selama ini?” dan apa yang akan kau jawab, apabila aku bertanya, “sanggupkah kau berpisah dengan sahabatmu?” Apa??

Kuyakin, pasti kau akan berpikir dua kali bahkan lebih untuk mencerna pertanyaanku dan jawaban yang akan kau jawab, sebab kau tak mau kehilangan satu kata pun yang sangat berarti bagi ‘angin sejuk’mu itu. Berpikirlah!!

Bagiku, jarak tidak menjadi alasan untuk berpisah. Mengapa? Sebab, cinta tiada mengenal jarak. Jalinan persahabatan bagaikan diikat dengan  tali. Sejauh apa pun dunia akan membawamu, jika kau menjaga tali itu dengan baik agar tidak putus, maka jalinan persahabatan pun akan tetap tumbuh, merambat dan tetap kokoh kecuali jika sosok malaikat maut meminta salah satu diantara kita untuk mengikuti arahannya.

Jiwaku begitu merindukan wajah-wajah itu. Wajah-wajah sahabat lama yang berhasil membuka celah hatiku untuk menerima mereka, wajah-wajah kecil yang sangat khas membuatku kadang kala duduk melamun dan berkhayal saat-saat indah kita dan membuatku sejenak mengintip memori pahit-manis masa silam yang penuh suka dan duka.

Bukan berarti aku tak menghargai sahabatku saat ini, namun kita berada pada dimensi waktu yang berbeda. Berbeda pula kesan, pengalaman dan sejarah yang terukir. Entahlah! Aku tak tahu apakah mereka pun menganggapku sahabat atau apa… Yang terpenting adalah aku memberikan yang terbaik yang mampu kulakukan.

Begitulah rantai hidup yang mau tak mau, rela tak rela harus dijalani…

Saat suka dan duka, tangis dan tawa, tetesan peluh, darah dan air mata, pengorbanan tenaga, jiwa dan raga, berbagi rasa maupun asa dan melangkahkan kaki mencari makna hidup dan harapan yang sama meski cita-cita berbeda lalu berakhir dengan kepergian salah satunya ke pangkuan Allah Yang Maha Kuasa.

Hatiku masih diliputi kerinduan yang mendalam. Hingga aku menciptakan kata demi kata, aksara demi aksara dari jari dan keyboardku yang beradu demi menghasilkan sebuah karya yang tidak terlalu bernilai ini, tanpa izin terlebih dahulu dariku, setetes butiran bening melewati pipi hangatku dan musnah di ujung daguku.

At last…

Thanks a lot…

I love you my bestfriends…

(Artikel ini ditujukan spesial kepada gank 4 Maiden, F.R. and d’faak)

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alvi R Aldyza. Bookmark the permalink.

3 Responses to Ketika Dia Kurindukan

  1. Aulia says:

    tulisan yang bagus Alvi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s