CINTA, TAKUT, DAN HARAP

Oleh Nawawi Hakimis

http://www.facebook.com/nawawihakimis

Kita yang telah nongol ke dunia ini bertekad menjalankan ‘bisnis’ yang tidak akan pernah mengalami kerugian. Adapun terhadap mereka yang ingkar terhadap kewajiban yang telah Allah berikan kepadanya, maka Allah akan menyiksa mereka. Allah menyiksa mereka karena mereka lebih suka memilih gaya hidup yang tidak peduli terhadap agama, acuh tak acuh sehingga mereka lalai dan bahkan melalaikan kewajiban agamanya.

Ibadah bukanlah sekedar gerakan tubuh yang dapat di indera oleh panca indera, namun penyertaan ibadah dengan sesuatu yang lain juga tidak kalah pentingnya. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan shalat, ia tidak hanya melakukan gerakan rukun Qauli, Fi’ly dan bahkan harus ada rukun Qalby yang berada dalam setiap pelaksanaan rukun-rukun shalat tersebut, sehingga nilai kekhusyukan yang hakiki bisa didapatkan dengan adanya kehadiran hati yang menyatu dengan rukun-rukun yang dilakukan oleh tubuh dan lidah kita.

Ketahuilah oleh semua kita, bahwa ibadah dan aktivitas seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai ‘rukun ibadah’. Tiga hal itu adalah “cinta, takut dan harap”.

Cinta

Makna cinta tidaklah terbatas hanya kepada hubungan kasih antara dua insan semata. Kecintaan yang paling utama adalah kecintaan kita kepada Allah dan Rasulnya. Jika seorang hamba telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dipastikan orang tersebut rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut.

Cinta kepada Allah dan Rasul tidak hanya dibuktikan dengan ibadah dan bermanis muka di depan masyarakat umumnya namun kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dibuktikan dengan membenci, menjauhi bahkan melarang untuk melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah.

Sungguh merupakan suatu hal yang sangat lumrah di zaman sekarang ini, apabila setiap muslim yang kita temui dan kita tanyakan kepadanya“Apakah anda mencintai Allah…?” maka jawaban yang akan muncul dari mulut dan lidahnya adalah “Ya, Tentu saja saya mencintai Allah”.

Ingatlah oleh kita wahai kaum muslimin Rahimakumullah

Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 31

“Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Seiring dengan firman Allah yang telah kita bacakan tadi, Allah juga telah berfirman Dalam surat Al-Ahzab : 21

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Ya…, bukti kecintaan kita kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah dalam segala hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarga. Beliaulah teladan baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya. Allah berfirman,

Maka jika kita mencintai Allah, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasulullah sebagai panutan kita, bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya.

Berbeda halnya jika kita mencintai orang-orang shaleh (seperti para rasul, Nabi, Sahabat Nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka, dan sebaliknya jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akhirat merupakan seburuk-buruk tempat. Duhai, betapa musibah yang sangat besar!

Takut

Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Di mana dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan tergerak hatinya untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Allah semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Allah berfirman,

“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49)

Rasa takut ada bermacam-macam, namun yang takutnya seorang muslim ialah takut akan pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa neraka, rasa takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat/tidak taat kepada Allah), rasa takut akan hilangnya iman dan lain-lain. Rasa takut semacam inilah yang harus ada dalam hati seorang hamba.

Harap

Pilar berikutnya yang harus ada dalam ibadah seorang hamba adalah rasa harap. Rasa harap yang dimaksud adalah antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan dimasukkan surga, harapan untuk berjumpa dengan Allah, harapan akan diampuni dosa, harapan untuk dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat dan lain-lain.

Dan kepada Tuhanmulah, hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyirah : 7-8)

Rasa harap dapat mendorong seseorang untuk tetap terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan namun dia tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang taat. Karena dia berharap Allah akan mengampuni dosanya yaitu dengan jalan bertaubat dari kesalahannya tersebut dan memperbanyak melakukan amal kebaikan. Sebagaimana firman Allah

“Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)

Harapan berbeda dengan khayalan dan angan-angan. Sebagai contoh; orang yang berharap menjadi orang baik maka ia akan melakukan hal-hal yang merupakan ciri-ciri orang baik, sedangkan orang yang berkeinginan menjadi orang baik namun tidak berusaha untuk melakukan kebaikan maka orang-orang inilah yang tertipu oleh angan-angan dirinya sendiri.

Kesimpulan

Ketiga pilar yang telah disebutkan di atas yakni; cinta, takut, dan harap harus terdapat dalam setiap ibadah seorang hamba. Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut hilang. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya.

Kebalikannya seseorang yang berlebihan rasa harapnya (berlebihan rasa harap diampuni) maka akan menyebabkan dia mudah bermaksiat, mudah melakukan kesalahan-kesalahan baik kesalahan dalam bentuk administrasi (korupsi, markup harga barang misalnya) maupun kesalahan dalam bentuk tingkah (pemukulan, penganiayaan misalnya) dan kelakuan (sombong, angkuh misalnya). Sedangkan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan seekor burung, rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.

Akhirnya marilah kita menjadikan semua kegiatan kita sehari-hari tetap berada dalam lindungan Allah dan semoga cinta, Takut dan harap kepada Allah semata yang ada dalam diri kita.

Ditulis oleh Nawawi Hakimis

http://www.facebook.com/nawawihakimis

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Pembaca Menulis and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s