SANG PENGUKIR JIWA

Oleh: Alvi Rizka Aldyza

Sang mentari kembali ke peraduannya. Selimut malam terbuka, menutup siang. Rasa penat yang menjalar dari ubun-ubun hingga ujung kakiku, meminta untuk beristirahat. Sebuah perjuangan hidup yang telah kulalui sekian jam, sungguh melelahkan dan tidaklah mudah. Sejenak aku mengucap syukur pada Dzat Yang Maha Agung. Alhamdulillah…

Aku tak menyangka, kini aku mampu menempuh hidup ini dalam kondisi yang lumayan sukses. Tahap demi tahap merangkai asa agar tercapai target, menyusun strategi demi masa depan yang gemilang. Sungguh… tak kusangka. Sebab, sejak lahir penyakit Asma menggerogoti diriku. Sebagian orang menganggap enteng, bahwa penyakit Asma hanya alergi biasa pada pernafasan. Namun, kau tahu?? Sekuat apa aku bertahan hidup dalam hembusan nafas yang tak stabil ini?? Seberapa besar ketabahan Ummiku dalam merawatku, membelai tubuhku dengan tangan lembutnya dan memanjatkan doa demi kesembuhan diriku?? Dan betapa letihnya Ayahku menjagaku hingga aku terlelap?? Sedang beliau sendiri belum sedetik pun memejamkan mata??

Terkadang, aku menyalahkan penyakitku ini. Aku tidak sanggup menerimanya. Mengapa tidak?? Sebab penyakit Asma sering menghalangiku untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dan bisa membanggakan kedua orang tuaku. Bahkan Ummi tak pernah membiarkanku bergerak bebas dengan alasan yang sama dan membuatku bosan mendengarnya. Semangat hidupku perlahan meredup, bagai api yang disulut di sebuah lilin yang hampir lenyap karena meleleh. Dan aku yakin, semakin redup, semakin pudar, maka semangat itu akan pupus!

Namun, apa yang terjadi padaku saat ini? Aku mulai berubah saat umurku 13 tahun. Kugapai kembali semangat hidupku, walau hanya sepenggal asa yang tersisa. Bergerak bebas di alam terbuka, menelusuri setiap jurang kehidupan, menjelajahi bilik-bilik hati insan lainnya hingga mengarungi benua hayati.

Binar-binar mata mulai menghampiriku, tepuk tangan menggebu pun sering menyertai. Bakat demi bakat kucurahkan dengan penuh keberanian, dengan seulas senyum yang akan selalu kusuguhkan meski baik atau buruk komentar mereka tentangku. Ah… sudahlah… ini duniaku!

Di kala itu pula, gagasanku mulai dibutuhkan. Amanah demi amanah kujalani sebagai pengikut Rasul yang taat. Setumpuk beban berusaha kuhadapi dengan ikhlas, walau terkadang secuil harapan hampir terkalahkan, maka kutumpahruahkan pada sahabat-sahabatku yang setia mendengar curahan hatiku hingga mereka tertidur lelap.

Semangat juang yang tak kuduga mampu kutanam dalam jiwa-raga ini. Bermula dari kecambah, tumbuh dan berkembang dengan segala perubahan, dan kuharap hingga suatu saat nanti, kecambah yang awalnya hanya mampu berasa untuk tumbuh sembari menanti air dan perawatan, menjadi kenyataan bahwa ia benar-benar sukses menjadi sebuah tumbuhan sejati, walau tak sempurna.

Semangat itu, sebenarnya bukanlah bermula dari aliran darahku. Bukan berawal dari pikiranku. Bukan pula berasal dari hatiku yang semula kehilangan semangat hidup. Namun, kudapatkan semangat yang membuatku bertahan hidup dalam suka dan duka, melawan nafsu dunia yang fana, bersabar dalam cibiran caci-maki dan syukur atas berkah Yang Maha Tinggi. Itu semua… kudapatkan dari seseorang yang sangat aku cintai dan kubanggakan.

Seorang yang bertubuh kekar, namun selalu peduli terhadapku. Bak legenda yang meski terjadi pada zaman dahulu, namun  tetap bermakna hingga saat ini. Andai aku adalah awan, beliau adalah sumber air yang menguap. Di mana awan tersebut kau temukan dengan bermacam-macam bentuk yang unik. Andai aku adalah masakan enak, beliau adalah bumbu-bumbu yang ditaburi, yang terdiri atas berbagai macam bumbu, selain dari bumbu cinta, kasih saying, dan semangat.

Seorang yang berpendirian teguh dan humoris. Menghebohkan suasana namun tetap fokus pada prinsip hidupnya. Sama sepertiku, mencintai buku dan hal-hal yang misterius. Selalu berbagi cerita dan wawasan, bagaikan ia perpustakaanku.

Bersama dengan Ummi, beliaulah penopang hidupku.  Ya… Ayah… Ayahlah yang selama ini selalu memberikan semangat hidup yang tak ternilai untukku. Meksi terkadang aku kesal padamu, namun pada akhirnya aku sadar, Ayah… bahwa laut memang berombak, namun ia memberi kesegaran. Angin terkadang membahayakan, namun ia memberi kesejukan. 1 atau 2 lidi memang menusuk, namun jika disatukan akan berguna. Dan aku paham, Ayah… Bahwa mawar memang berduri, namun terlepas dari semua itu, mawar itu harum dan bermakna cinta.

Dan aku yakin… tiada Ayah lain yang dapat menggantikannya. Maka aku terus berdoa agar Allah Azza wa Jalla selalu memberikan kemudahan dan kesehatan serta umur panjang bagi dirinya, menjaganya dari segala keburukan, mendekatkannya pada hal-hal yang baik dari segala yang baik. May Allah always bless you, Dad. Amin…

At last…
I Love You… Daddy…

Alvi Rizka Aldyza

Siswi XI SMA Fajar Hidayah Blang Bintang

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alvi R Aldyza. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s