TEMAN CHATTING

Oleh : Hardyanti Zahara
Siswi SMA FHIBS Blang Bintang, Aceh Besar.

Usai mengerjakan PR Matematika dan les Bahasa Inggris, Lala tampak senang setelah terlepas dari beban berat. Lala berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Papa dan Mama sudah seminggu berada di luar negeri, yaitu Australia. Namun, bukan berarti Lala bisa bolos les. Lala pun membuka internet dan siap chatting dengan Mama tercinta. Tampak raut wajahnya bersemangat. Seperti biasa, ia menggunakan nick name Pretty Girl. Ternyata, Mama belum online juga.

“Huh… Mama bagaimana sih. Sehari chatting sekali saja kok tidak sempat?” keluh Lala. Tiba-tiba, muncul sesuatu di layar. Ada yang menyapanya. Awalnya, ia malas menjawab, tetapi karena bosan akhirnya Lala pun membalas sapaan tersebut.

Ternyata, teman chattingnya yang baru ini sangat humoris, nick namenya Good Boy. Lala senyum-senyum sendiri, sehingga lupa akan tujuan utamanya untuk chatting dengan Mama. Setelah lama berkenalan (dalam bahasa Inggris) dengan Good Boy, ternyata Papanya berasal dari Indonesia, sedangkan Mamanya yang sudah meninggal berasal dari Australia. Sudah lama Papanya tinggal di Indonesia dan bahkan kini sudah menikah dengan orang Indonesia. Tetapi, Good Boy yang nama aslinya adalah Peter, menetap di Australia bersama Paman dan Bibinya.

Suatu pagi, ketika Lala duduk santai di taman sekolah, ia menceritakan teman barunya yaitu Good Boy kepada sahabatnya,. Tampaknya, hari ini Lala sangat gembira. Ketika jam istirahat saja, ia berjalan dengan lincah menuju kantin. Bukan karena lapar, tetapi karena nilai ulangan sainsnya hari ini mendapat nilai 90. Padahal, biasanya, paling tinggi ia dapatkan 65.

“La! Tunggu! Eh, aku mau tanya. Kok bisa sih kamu dapat nilai 90? Tumben? Nyontek sama siapa La?” Tanya Reza, salah satu sahabat Lala.

“Peter yang mengajariku kemarin,” jawab Lala.

“Apa lagi yang kalian bicarakan?” Tanya Peter ingin tahu.

“Peter akan ke Indonesia bulan depan, mengunjungi Omanya. Jadi, kami akan bertemu. Wah… perasaanku senang…banget!” wajah Lala tampak berseri, membuat Reza iri padanya.

Hari-hari berikutnya, Lala menunjukkan kemajuan di beberapa mata pelajaran, terutama sains dan matematika. Meski Mama telah kembali, Lala tetap meneruskan chatting dengan Peter.

Suatu malam, tak biasanya Mama menemui Lala sebelum tidur. Mama mengatakan suatu hal yang sangat penting, hingga membuat jantung Lala berdebar-debar.

“Kamu bisa ngerti, kan sayang?” tanya sang Mama sambil menggenggam tangan putrinya. Papa  tiri Lala akan mengajak anak tunggalnya tinggal bersama Lala di Jakarta. Lala tahu, kalau Papa tirinya memiliki seorang anak lelaki di Australia, tetapi ia tidak pernah membayangkan akan tinggal dengan saudara tirinya itu. Pantas saja, Mama pulang ke Indonesia tanpa Papanya. Ternyata Mama masih mengurus kepindahan anak lelakinya itu.

Malam itu, Lala tidak bisa tidur, sebab membayangkan kasih sayang Mamanya akan berkurang sebab harus berbagi dengan orang lain.

Paginya, Lala tampak murung. Tentu saja, hal ini membuat Reza dan sahabat lainnya heran.

“Kenapa La? Tidak chatting dengan Peter lagi?” tanya Reza memulai pembicaraan.

“Bukan karena Peter. Tetapi, Papa tiriku akan kembali bersama anaknya yang selama ini tinggal di Australia,” jawab Lala sedih. Ia mendesah.

“Wah… berarti kamu punya saudara tiri dong! Ih… kalau dia nakal, bagaimana?” tanya Desi. Lala hanya diam, meski hatinya sebenarnya was-was dan cemburu.

Hari yang mendebarkan bagi Lala akhirnya tiba. Papa dan anaknya telah sampai di Jakarta. Saudara tirinya ternyata sangat cakep, apalagi dengan lensa matanya yang berwarna biru.

“Hai!” sapa saudara tirinya yang ramah sambil mengulurkan tangannya pada Lala. Lala menyambutnya ragu, tetapi akhirnya ia tersenyum pada saudara tirinya itu.

“Namaku… Lala…” katanya grogi.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, Lala membisu. Ia takut keramahan saudaranya akan segera sirna dan berganti dengan berbagai kenakalan yang akan menyengsarakan Lala.

“Oh ya, ada surat di kantong boneka kangguru itu. Khusus untukmu, Lala,” kata saudara tirinya yang duduk disebelah Lala.

“Ia mengetiknya semalaman lho…” tambah Papa.

Lala segera membuka amplop merah jambu yang harum itu, kemudian mengeluarkan isinya yang tebal. Dibukanya beberapa lembar kertas.  Matanya tiba-tiba terbelalak dan mulutnya menganga.

“Peter?” pekik Lala sambil menoleh tak percaya pada saudara tirinya itu. Peter hanya mengangguk sambil tersenyum.

Lala mengamati kembali lembaran kertas yang berisi larik-larik percakapan saat chatting. Didalamnya pun tertera nick name masing-masing.

Lala tersenyum bahagia. Ternyata saudara tirinya yang dirisaukan selama ini adalah sahabatnya sendiri. Lala menumpahkan tangis harunya. Peter tersenyum seraya menggenggam tangan Lala. “Ini memang Peter, adikku!”

Oleh : Hardyanti Zahara
Siswi SMA FHIBS Blang Bintang, Aceh Besar.

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Hardyanti Zahara. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s