I HAVE A DREAM

By: Nyak Sufriati, Siswi kelas 2 SMP Fajar Hidayah Aceh

Dari aku kecil hingga sekarang, mungkin juga untuk selamanya, impianku hanya satu, tidak pernah berubah. Aku mengimpikan keluarga yang harmonis yang menyayangi satu sama lain. Hanya itu… tidak lebihh… Sejak kecil, aku sangat haus akan kasih sayang. Aku sangat merindukan keluargaku, walau aku tidak pernah tahu atau lupa akan sosok dan wajah mereka. Ini kisah masa laluku…

Usiaku baru memasuki 3 tahun. Saat itu, aku kehilangan Ayahku. Walau aku telah membujuk Ayah agar tidak pergi, tetapi Ayah bersikeras. Selang beberapa hari, Ayah ditemukan tewas di tepi sungai dengan sangat mengerikan.  Dari ujung kaki, paha, pinggang, tangan dan kepala terpisah. Perut dan usus-ususnya terurai dan kepala tercampak ke sungai. Ketika itu, Ibu menangis sambil teriak-teriak. Sedangkan aku hanya berdiri mematung memperhatikan keadaan Ayahku. Bisa juga dikatakan, tidak ada setetes air mata pun yang mengalir dari mataku. Aku masih ingat sebelum Ayah pergi, Ayah dan Ibu bertengkar. Malamnya, mereka tidak tidur sekamar. Ibuku di kamar dan Ayah di ruang tamu bersamaku. Aku tahu Ibu menangis didalam kamar. Aku juga tahu Ayah menangis dalam diam. Dalam hati mereka punya ikatan cinta yang kuat.

Setelah Ayah pergi meninggalkan kami, nenek sangat membenci ibu. Nenek  bilang,  Ayah meninggal karena bertengkar dengan Ibu. Ibu yang sangat sedih akan kepergian Ayah, yang meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak, akhirnya jadi kurang waras. Kata Nenek Ibu sudah gila. Nenek yang juga membenci aku dan adikku yang masih bayi, akhirnya memutuskan untuk memberikan adikku pada temannya di Medan. Sedangkan aku dibiarkan menjadi gelandangan.

Ketika tsunami melanda, nyawa Ibuku terenggut. Hingga ada seseorang yang kasihan padaku lalu diantarkannya aku ke panti asuhan. Di sana aku diasuh dan disekolahkan. Ada seorang ibu yang sangat menyayangiku. Tetapi aku masih tidak dapat merasakan kasih sayang yang tulus. Mungkin Ibu itu menyayangiku karena berpikir aku adalah anak yatim piatu dan korban tsunami.

Sekarang, aku berhasil dan bisa kuliah ke Mesir. Tetapi tiada impian lain selain impianku yang satu ini. Dalam senyum dan tawa yang sering kuberikan dan kuukirkan, disitu ada tangisan. Tangisan yang selalu membuatku merana.

Kini aku sudah berhasil karena kerja kerasku sendiri. Aku sangat terkenal. Ramai yang mengagumiku. Itu juga hasil keringatku sendiri. Apa aku pernah meminta bantuan pada keluargaku? Sama sekali tidak. Mungkin banyak orang yang berpikir aku bahagia. Mereka salah, aku tidak pernah merasa bahagia. Malah aku menyesal mengapa aku bisa hidup di dunia ini. Aku kesall tidak bisa membantu Ayah saat kesusahan, menolong Ibu ketika sangat merindukan Ayah dan merampas kembali adikku dari orang yang tidak dikenal. Seakan aku hidup di dunia ini tidak ada arti. Sia-sia…

Tetapi sekarang aku pasrah pada ketentuan Ilahi. Aku hanya bisa berdoa agar orang tuaku bahagia di alam sana. Dan misiku sekarang adalah mencari adikku apa masih hidup atau juga sudah menemani orang tua di sana. Tetapi yang jelas, I have a dream!! Hanya satu dan untuk selamanya. Aku mengiginkan keluarga yng harmonis, yang tulus menyayangi, mencintai dan mengasihi. A happy family.

By : Nyak Sufriati

Siswi kelas 2 SMP Fajar Hidayah Aceh

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Nyak Sufriati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s