Pasca Kejadian 26 November 2010

Oleh: Rosmanizar Chaniago Siswi 3 IPA SMA Fajar Hidayah Blang Bintang

Pagi hari yang cerah saat aku, Diana & Tuti bertugas seperti hari kemarin untuk  Panitia Fahmul Qur’an X & XI bagian Registrasi. Pagi hingga siang hari kami hanya melayani para peserta yang mendaftar & juga mengerjakan beberapa hal yang berkaitan.

Matahari berada di pertengahan pada siang itu, dan kami pun Shalat Magrib & langsung makan malam di hall seperti biasa & setelah itu kami langsung pulang ke asrama untuk mandi.

Di Asrama

Sesampai di asrama aku langsung mandi & setelah itu bercerita kepada adik-adik yang sedang berkumpul di kamar ganti. Kami bercerita banyak hal yang bisa membuat kami tertawa yang kami anggap lucu. Tak lama kemudian seorang ibu peserta FQ datang dengan ngos-ngosan & menyuruh kami untuk bersiaga & berhati-hati

“Nak,, kalian siap-siap aja ya, dan jangan terlalu bergembira, di pintu gerbang massa mau mengamuk”, kata ibu tersebut.

“Ada apa lagi ya,,,?? Perasaan tadi sore  persoalan  sudah kelar”. Tanyaku dalam hati.

Tak lama kemudian satu asrama pun riuh tak terkendalikan, masing-masing orang berlarian keluar berhamburan dari Asrama Putri. Akupun berjalan menuju hall untuk membuktikan apa benar kalau sekarang masih ada massa yang mau mengamuk. Belum sampai di hall kami masih berada sudut Gedung Asrama Guru, aku bisa mendengar suara massa yang mengamuk & memecahkan beberapa gedung sekolahku. Mereka melempari kaca dan lampu.

“Ya Allah! Apa yang sedang terjadi..??? Mengapa mereka melakukan hal ini kepada kami”. Jeritku dalam hati.

Tidak lama kemudian, kami dikumpulkan di lantai 2 Asrama Guru untuk berlindung bersama-sama dengan guru, teman & para pimpinan kami. Hiruk pikuk suara dari bawah, mereka laksana manusia yang tak punya hati nurani, mengandalkan emosi yang termakan hasutan orang lain.

“Kamu semua turun ke bawah bergabung dengan yang lain”, kata Pak Rahmat. Kami semua langsung mengikuti petunjuk dan dalam selang waktu itu hanya air yang menetes keluar dari pelupuk mataku tanpa suara. Aku tidak ingin adik-adikku tahu kalau aku menangis, aku ingin mereka tidak melihat air mataku agar mereka bisa melihat dalam situasi apapun kita harus tegar. Segera kuhapus bening air di permukaan wajahku.

Sampai ke lapangan bawah, beberapa adik-adik berteriak histeris, menangis, berteriak. Mereka juga tidak ingin gedung sekolah mereka di buat porak poranda lagi.

Semuanya hanya kembali bertasbih untuk menegarkan hati masing-masing. Lambat laun aksi amukan massa mereda & mereka menghilang satu persatu. Dalam ketegangan seperti ini aku masih melihat wajah guru-guruku, walaupun dalam segenting ini, mereka selalu memberi semangat pada kami. Terima kasih ya Allah Engkau telah mengirimkan orang yang sangat pas dan cocok untuk kami.

Ya Tuhan…. Ampunilah dosa hamba ini…

Satu jam berselang, para tentara dari lanud SIM & Poltabes berdatangan. Kami di himbau agar tidak menginap di kawasan ini untuk sementara, karna dari beberapa pihak masih mengkhawatirkan keselamatan kami.

Kamipun kembali ke asrama  satu persatu untuk membereskan pakaian yang bisa di gunakan  dalam waktu 1 sampai 2 hari. Setelah itu ketika Kapoltabes datang, Ira tiba-tiba kurang enak badan. Sementara yang lain yang di kumpulkan di koridor asrama guru. Tapi Alhamdulillah kami tak jadi pergi dari sekolah yang sudah menjadi rumah kami. Adik-adik & teman-teman masih histeris, walaupun keadaan sudah mereda tapi isak tangis masih terdengar.

Ya Tuhan… Apakah pengganti dari air mata yang terjatuh oleh kami yang telah di aniaya ini ya Allah… Sadarkanlah mereka, bukalah pintu hati mereka semua selebar-lebarnya Ya Rabb.

Aku masih sempat ke depan di gedung Administrasi untuk membereskan berkas yang di perlukan. Aku bisa melihat pecahan kaca di hall, sekolah training  & office, kaca yang pecah bertaburan di lantai seperti pasir di pantai, hatiku menjerit “SAKIT”.

Ya Tuhan.. Inikah sekolahku yang tadi sore masih gagah dan utuh, hanya dalam sekejap mata, mata hati mereka tertutup hanya dengan kesalahpahaman yang tak tentu arah itu.

Hatiku terisak tak bertepi, tabahkanlah hati kami semua Ya Allah,, Adik-adikku, teman-temanku, guru-guruku dan pimpinan kami, Tabahkanlah hati mereka ya Allah. Kami tahu yang benar pasti akan tetap benar, karena yang menjaga kebenaran adalah Allah.

Oleh: Rosmanizar Chaniago Siswi 3 IPA SMA Fajar Hidayah Blang Bintang

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Rosmanizar Ch. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s