Study in Fajar Hidayah School

Oleh: Dara Maulini
Mahasiswi LIPIA Jakarta – Alumni SIT Fajar Hidayah

Saya Dara Maulini, saya lahir di Lampaya 7 September 1992. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Orangtua saya telah tiada. Saya tinggal bersama dengan abang dan adik di rumah nenek di Lampaya.

Setelah kejadian Tsunami 26 Desember 2004, saya melanjutkan SMP di Fajar Hidayah yang berada di Pagar air. Pada hari senin tanggal 24 January 2005 Fajar Hidayah datang ke tempat pengungsian 85 Lampaya. Setelah itu ada pengumuman di Mushalla bahwa ada sekolah gratis untuk anak korban Tsunami, siapa yang berminat harap mendaftar. Ternyata ada sekitar 30 orang yang mendaftar, keesokan harinya kami semua di bawa ke sekolah Fajar Hidayah di Pagar air. Pak Keuchik beserta dengan para orangtua lainnya juga ikut. Setelah sampai disana kami dikumpulkan semua untuk saling mengenal, guru-guru juga memperkenalkan diri, mereka adalah Ibu Aning, Ibu Sri, Pak Ade Candra, dan Pak Taufik. Selain sebagai guru mereka juga sebagai orangtua kami. Senang sekali rasanya banyak orangtua. Selama beberapa hari di Pagar air, gempa susulan sangat sering terjadi, pernah suatu ketika, tiba-tib terjadi gempa yang sangat kuat pada jam 2 pagi. Semua orang berlarian turun ke bawah. Ada salah seorang guru yang baru datang dari Jakarta karena tidak pernah merasakan gempa, beliau ketika mengumandangkan adzan sampai kebalik-balik. Setelah kejadian itu Pak Nusa selalu bilang, “Anak-anak, kalau ada gempa jangan panik dulu ya, kalian cepat-cepatlah berlindung di bawah meja atau tempat tidur.” Hhmm!

Selama beberapa bulan, kami belajar belum terlalu serius karena banyak sekali anak-anak yang masih trauma pasca Tsunami itu, jadi kami sering jalan-jalan ke pantai seminggu atau dua minggu sekali. Agar rasa trauma kami cepat hilang. Belajar di Fajar Hidayah sangat menyenangkan, sangat berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Disini kami belajar sambil bermain, belajar tidak hanya terpaku pada buku saja. Banyak hal yang bisa dipelajari. Seperti permainan dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Kami sangat semangat belajar, walaupun kamar tempat kami tidur setiap pagi harus di sulap menjadi kelas,,

Setiap pagi, kami bangun jam 5 pagi, lalu bersiap-siap untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Setelah shalat kami membaca Al-Ma’tsurat bersama-sama, lalu ada yang menghafal Al-Qur’an atau menyetor hafalan ke Pak Ismail. Semua murid berlomba-lomba dalam menghafal Al-Qur’an, tapi terkadang kami juga mengadakan perlombaan CCQ (cerdas cermat Qur’an) antar murid. Setelah selesai, kami bersiap-siap untuk sarapan dan berangkat ke sekolah. Ketika itu kami semua di gabung dari kelas 1 SMP sampai 3 SMP ke dalam satu kelas, tapi setelah muridnya bertambah kami sudah memiliki kelas masing-masing. Sekolah di Fajar Hidayah memang sangat berbeda dengan sekolah yang lain. Kami belajar tidak hanya di kelas saja, terkadang kami juga belajar di luar kelas, seperti di sawah. Belajar di luar kelas membuat wawasan lebih bertambah, pikiran lebih terbuka. Karena itu kami sangat semangat belajarnya.

Setelah beberapa lama di Fajar Hidayah Pagar Air, Alhamdulillah berkat prestasi yang saya raih, saya dipilih untuk melanjutkan sekolah di Fajar Hidayah Jakarta, ketika itu saya kelas 2 SMP. Saya sangat senang sekali, dan segera bersiap-siap untuk berangkat. Saya tiba di Jakarta pada hari Rabu 7 Agustus 2005, saya berangkat bersama dengan Ibu Draga, Abang Muhib, Abang Candra, dan Abang Hikmah. Dan ternyata belajar di Fajar Hidayah Jakarta lebih menyenangkan lagi, walaupun jauh dari keluarga. Tetapi kami masih punya banyak teman dan orang-orang yang sangat menyayangi kami. Di Jakarta saya tinggal di rumah Ibu Draga dan Bapak Mirdas bersama dengan teman-teman yang lainnya juga. Ada yang dari Sunda, Jawa, dan Padang. Setiap hari kami pergi ke sekolah, belajar dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore.

Selama tinggal di Jakarta, banyak sekali pelajaran yang sangat berharga, disini kami belajar menjadi kakak-kakak yang baik untuk adik, bisa menjaga rumah, menjaga pergaulan, dan bisa mengatur waktu dengan sebaik-baik mungkin. Dan Alhamdulillah sekarang saya sudah menyelesaikan sekolah saya sampai SMA. Sekarang sedang melanjutkan lagi di LIPIA Jakarta.

Saya sangat bersyukur dapat bersekolah di Fajar Hidayah, tanpa ada Fajar Hidayah mungkin saya tidak bisa seperti sekarang ini.

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alumni Menulis, Dara Maulini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s