POTRET UDIN…

Oleh: Alvi Rizka Aldyza

“UUUDDDIIINN!!” Jeritan Emak kembali terdengar dari sebuah rumah dengan atap yang agak reyot, sedang memarahi Udin, anaknya.

“Kamu tuh ya… selalu aja buat masalah. Selalu bikin Emak sedih. Ngapain kamu curi mangga Pak Mamat, padahal baru aja Emak beli mangga buat kamu Din. Liat tuh! Pak Mamat marahin Emak terus…” jerit Emak lagi.

Seperti biasa, Udin yang memiliki nama lengkap Arrahimuddin dan duduk di kelas 6 SD ini, hanya diam membisu. Setiap dimarahi, Udin tak pernah membantah. Terkadang ia mematung, lalu terdiam 1000 bahasa, menunduk dengan penuh penyesalan dan menunggu padamnya amarah Emak. Udin, seorang anak dari pasangan Narko, seorang petani dan Murni, penjual kue ini terkenal sebagai anak yang nakal dan suka meresahkan warga. Ia suka membuat ulah yang menyinggung perasaan orang lain. Pantas saja, ia sering dimarahi Emak dan Abah.

Namun, tiada yang tahu apa maksud Udin melalukan itu semua. Tiada kesemptana berbicara untuk Udin. Tiada yang tahu bagaimana Udin sebenarnya. Mungkin… Hanya Allah Yang Kuasa  dan Udin yang mengetahuinya. Ya…mungkin! Hingga suatu hari, potret sosok Udin terungkap!!

///

Sabtu, 13.05 WIB, sepulang sekolah…

“Miaow… Miaow…” terdengar rintihan seekor anak kucing berbulu kelabu di sebuah sudut jalan Desa Suka Jaya. Udin mencari sumber suara.

“Ya Allah… kasian amat ni kucing. Udah dekil, kurus, sendirian, terjebak di sudut, masih kecil lagi! Tega benar induknya!” sahut Udin jengkel seraya mengelus lembut kepala anak kucing tersebut. Udin pun berpikir.

“Rasanya, nggak mungkin dibawa pulang. Emak nggak bakal ngizinin. Hmm… Aha! Mending Udin mandiin dulu di sungai, trus Udin titip sama Sinta aja. Siip!!” ucapnya bangga pada diri sendiri. Lalu, Udin berjalan menuju sungai yang tak begitu jauh jaraknya. Tiba di sungai…

CKLIK!! CKLIK!!

Selama lebih kurang 7 menit Udin memandikan kucing tersebut kemudian berjalan setapak ke rumah Sinta, teman sekelas yang ada di kompleknya. Tiba disana, kebetulan Sinta yang membukakan pintu. Udin segera menyerahkan anak kucing itu.

CKLIK!! CKLIK!!

Udin meninggalkan rumah Sinta dengan hati riang.

///

“Lain kali, Emak nggak mau kamu pulang telat lagi. Nggak ada alasan! Kamu anak Abah dan Emak satu-satunya, Din. Seharusnya kamu bisa bantu Abah di sawah atau bantu Emak buat kue,” lagi-lagi Emak memarahi Udin. Padahal, Udin belum menjelaskan alasan yang sebenarnya. Ia hanya diam.

Keesokan harinya…

“Kue..kue..kue.. masih segar dan enak. Dari bahan alami dan berkhasiat. Dijamin halal…” jerit Udin sambil menjajakan kue buatan Emak. Setiap Minggu pagi dan sore, Udin membantu Emak menjual kue.

Udin tampak kelelahan. Ia pun berteduh di bawah pohon beringin sambil menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Ia kembali menghitung  kue dan keuntungan yang ia dapatkan hari ini. Tiba-tiba, seorang bocah laki-laki dengan pakaian kumal dan kedua kakinya penuh luka terseok-seok melangkah, berusaha menghampiri Udin.

“Kak… Boleh aku minta kuenya sedikit. Mohon kebaikan Kakak. Sudah 3 hari aku nggak makan Kak. Aku nggak punya uang. Aku nggak punya keluarga. Kumohon Kak.. Hiks…Hiks..” tangisan bocah tersebut sejenak menghilangkan rasa penat Udin.

Udin teringat pada keluarganya. Walaupun Abah hanya seorang petani, kondisi ekonomi keluarganya berkecukupan. Ia masih mempunya orang tua lengkap yang peduli padanya. Udin merasa lebih beruntung dari pada bocah itu. Sejenak, Udin mengucap Hamdallah dalam hatinya atas nikmat yang luar biasa dari Allah Swt.

“Baiklah. Duduk di sini!” ujar Udin mempersilahkan sang bocah duduk di dekatnya. Ia tak merasa jijik pun terhadap luka yang dialami bocah itu. Sang bocah segera mendekat dan melahap 4 buah kue Udin. Udin teringat Emak. Tetapi, ia tidak takut dimarahi Emak nantinya. Ia sudah terbiasa.

CKLIK!! CKLIK!!

Seperti dugaannya, begitu Emak tahu bahwa jumlah kue dan hasil penjualannya tak sesuai, Emak memerahi Udin. Dan seperti biasa, Udin diam seribu bahasa.

///

“Udin! Pinjam sepatumu dong! Sepatku basah ni… hari ini aku harus ikut lomba pidato tingkat kecamatan. Nggak mungkin dong, aku pake sandal. Ntar aku balikin! Tolong ya, Din…” ucap Fajar seraya memohon pada Udin. Udin mengiyakan. Ia menukarkan sepatu dengan sandal Fajar untuk sementara.

CKLIK!! CKLIK!!

“Aku balikin besok ya, Din!” teriak Fajar, lalu ia menghilang. Udin mengangguk sambil melambaikan tangannya.

“Semoga sukses, Jar!” balas Udin diiringi seulas senyumnya yang ikhlas. Fajar adalah salah satu sahabat Udin yang lucu. Fajar termasuk anak yang pintar dan berbakat dalam berpidato. Karena itu, Udin rela menolong Fajar meski pun akhirnya Udin diberikan sanksi oleh Guru Kesiswaan.

Saat itu, Udin sempat berpikir, Emak akan marah jika mengetahui hal ini. Dan benar saja! Lagi-lagi Udin dimarahi Abah dan Emak.

///

Para murid SD Jaya tampak berkerumun di luar Kantor Kepala Sekolah. Bukan untuk berdemo, tetapi mereka ingin mengetahui siapa yang akan dikeluarkan oleh Bapak Kepala Sekolah. Beberapa murid tampak kaget ketika melihat sosok wajah bocah yang kurus dan murung duduk di antara kedua orang tuanya. Ya… Udin.

Udin akan dikeluarkan dari SD 20 sebab sudah berulang kali Udin melakukan kesalahan sehingga para guru kewalahan mengaturnya. Orang tua Udin sudah berusaha membujuk Kepala Sekolah namun tak digubris. Udin menangis sesenggukan. Ia tak berbicara sepatah kata pun.

Kalau sudah dikeluarkan seperti ini, jangankan tamat SMA, tamat SD pun tidak? Apalagi, satu-satunya SD yang murah yang ada di desa ini Cuma SD 20. Huuhh… Abah membatin. Emak hanya bisa menangis. Abah pun tampak sabar dan belum memarahi Udin. Ya.. belum!

Beberapa menit kemudian, Udin bersama orang tuanya keluar dari Kantor Kepala Sekolah. Udin menunduk. Rasanya, ia ingin meledak. Sebenarnya, Udin ingin mengatakan sesuatu. Ia ingin memuntahkan semua alasan atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Namun, Udin tak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Lagipula, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah dikeluarkan.

Ya Allah.. sebenarnya Udin nggak tahan lagi. Udin ingi menjelaskan semuanya. Tpi, Udin nggak bisa. Lidah Udin kaku. Ya Allah, Ya Rahim, apa yang harus udin lakukan sekarang? Udin nggak bisa lagi buat Abah dan Emak bangga. Ya Allah… berikan Udin kemudahan…

Saat itu, jam istirahat sedang berlangsung. Tentu saja, para murid paham dengan kondisi seperti itu. Mereka mengerti, itu tandanya ‘seekor kucing telah diusir oleh sang pemelihara, lalu kembali pada keluarga kucing’.

Namun, Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang teraniaya. Cepat atau lambat, kebenaran akan segera terungkap!

Seorang fotografer muda dengan kamera yang digantung di lehernya tampak di sudut parkir kendaraan. Ia berjalan perlahan ke pusat keramaian. Para murid tampak takjub melihat benda berlensa yang dimiliki pemuda itu. Maklum…

“Permisi, Dik! Kakak mau tau, yang namanya Arrahimuddin, yang biasa dipanggil Udin, yang mana ya?” tanya peuda itu pada salah seorang diantara mereka. Yang ditanya tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah Udin.

“Ooo… Trus, ada apa ini ya? Kok pada ramai begini? Ada berita heboh?” tanya pemuda itu lagi. Murid lainnya menjelaskan semuanya dengan lengkap dan penuh semangat.

Pemuda yang bernama Leo itu kaget bukan kepalang. Setelah mengucapkan terima kasih, Leo segera berlari ke arah Udin.

“Tunggu! Pak, Bu, Udin! Tunggu sebentar!” jerit Leo.

Yang dipanggil pun meoleh ke sumber suara. Leo berhenti dengan nafas yang terengah-engah.

“Ok! Saya tahu, Anda pasti heran melihat saya, orang yang tidak Anda kenal. Tetapi, saya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting mengenai Udin, anak Anda,” ungkap Leo. Abah, Emak dan Udin tampak bingung.

“Saya tidak mengerti apa maksud Anda, anak muda. Jelaskan dulu siapa Anda, darimana Anda tau nama Udin dan apa yang ingin Anda jelaskan mengenai Udin?’ tanya Abah dengan sopan.

Leo pun memperkenalkan dirinya dan menjelaskan bahwa Udin tak pantas disalahkan. Saat itu, sebenarnya Leo ingin menjelaskannya secara lengkap.

“Permisi! Ada apa ini?” tanya Bapak Kepala Sekolah yang tiba-tiba muncul. Kemudian, Leo memperkenalkan dirinya pada Bapak Kepala Sekolah sambil menjelaskan hal yang sama mengenai Udin.

“Bagaimana tidak bersalah? Udin telah terbukti melakukan banyak kesalahan dan meresahkan masyarakat. Keputusan saya mengenai Udin sudah bulat!” tegas Kepala Sekolah. Leo tampak jengkel dengan kata-kata Kepala Sekolah yang terlalu cepat emosional.

“Begini, Pak. Meskipun begitu, Udin mempunyai alasan yang baik melakukan semua itu. Sebenarnya Udin…..”

“Mengapa Anda yang harus membelanya? Mengapa tidak orang tuanya? Bagaimana Anda tahu semua itu?” Kepala Sekolah memotong penjelasan Leo.

“Karena saya yang selama ini memperhatikan gerak-geriknya secara sembunyi-sembunyi. Itu pekerjaan saya selama ini.hingga saya tahu sosok Udin yang sebenarnya. Walaupuk kami tidak saling mengenal. Lagipula, saya paham Pak! Udin tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan semuanya!” sahut Leo tegas dan menantang. Udin dan orang tuanya tidak berkutik. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“Benar begitu, Udin?” tanya Abah tiba-tiba. Udin ingin menangis, tetapi lidahnya kelu.

“Saya memiliki bukti, Pak. Selama ini, saya memotret gerak-gerik Udin,” ujar Udin sambil mengambil beberapa lembar foto 6×24. Di sudut kiri bawah lembar foto tersebut tercantum waktu.

“Ibu masih ingat ketika Ibu memarahi Udin yang mencuri mangga tetangganya? Padahal, baru saja Ibu membelikannya mangga. Ia kehabisan mangga, tetapi teman yang disebelahnya sangai ingin buah mangga. karena itu, ia mencuri mangga. meski sebenarnya Udin tahu bahwa perbuatan itu salah, tetapi ia tidak tega melihat temannya sedih,” ungkap Leo.

Lembaran foto tersebut ditunjukkan pada orang tua Udin. Para murid berusaha mengintip foto tersebut. Beberapa murid yang sudah melihat jelas tampak mengangguk-angguk.

“Foto itu adalah foto saat Udin memandikan kucing yang terjebak di sebuah sudut jalan. Setelah kucingnya bersih, Udin memberikannya pada Sinta. Karena itu, ia pulang terlambat. Padahal, ia baru saja membuat kebaikan. Tetapi, Ibu malah memarahinya.”

“Itu benar! Sinta masih memelihara kucing itu,” ujar sebuah suara yang ternyata Sinta.

“Lihatlah satu demi satu foto yang saya potret tentang Udin. Saya bersedia menjelaskannya!” sahut Leo.

Udin membelalak kaget. Mulutnya menganga sejak tadi. Ia tidak percaya, ternyata selama ini ada yang mengawasi gerak-geriknya. Emak, Abah dan Bapak Kepala Sekolah terharu dan mata mereka berkaca-kaca. Tak ketinggalan, para murid di sekeliling meneteskan air mata setelah Leo menjelaskan satu persatu foto tentang kebaikan Udin.

“Udin nggak salah! Udin nggak boleh dikeluarkan!” teriak Sinta.

“Ya! Udin tetap anggota sekolah ini!”

“Udin nggak pantas disalahkan!”

Beberapa teriakan membela Udin semakin terdengar. SD 20 mulai ricuh. Mereka membujuk Bapak Kepala Sekolah untuk mencabut kembali pernyataan atas dikeluarkannya Udin. Kepala Sekolah jadi salah tingkah.

“Baik. Adik-adikku sekalian. Perlu kita ketahui bahwa jangan menilai seseorang hanya dari luar saja, tetapi menilai hatinya. Potret seorang Udin bagi kakak luar biasa. Amazing! Dan lain kali Udin harus berani mengungkapkan alasanmu. Ok?” ujar Leo sambil memegang pundak Udin. Udin tersipu malu dan hanya mengangguk pelan. Butiran bening pun mengucur ke pipi imutnya. Ia semakin tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

“Jadi bagaimana, Pak?” tanya Leo. Abah dan Emak hanya terdiam menyadari kesalahannya.

“Haaah… baiklah… hmm…. Udin akan tetap menjadi anggota sekolah ini,” jawab Kepala Sekolah sambil tersenyum.

“Yeee…….” Anak-anak bersorak gembira.

“Hidup Udin! Hidup Udin!” teriak anak-anak mendukung Udin. Mereka berusaha mengangkat Udin layaknya pemain bola setelah memasukkan gol. Sayangnya…

“Yaaah… Udin keberatan…” sahut salah satunya. Ledakan tawa pun mengisi kerumunan tersebut. Hari itu, warga SD 20 mendapat banyak hikmah dari kisah tersebut.

///

Sepulang sekolah, siang hari…

“Kak Leo, Udin nggak tahu harus membalas apa atas bantuan Kakak selain ucapan terima kasih. Udin udah lega sekarang. Padahal, kita kan belum kenalan. Sekali lagi, terima kasih Kak…” ujar Udin tersenyum lebar.

“Yee…. Walau pun kamu nggak kenal Kakak, Kakak kenal kamu kok! Kamu nggak perlu berterima kasih dengan Kakak. Itu sudah sewajarnya kita mengungkapkan hal yang benar. Seperti hadits Nabi Muhammad Saw, ‘katakan yang benar, walau pun pahit!” makanya, jadi cowok harus berani. Gentle man dong!” ujar Leo sambil mengacak rambut Udin. Udin berusaha menghindar sambil tertawa.

Hari itu, menjadi hari yang bersejarah bagi mereka. Bagi Udin tentunya…

By : Alvi Rizka Aldyza

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Alvi R Aldyza. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s