Ummi…

Kulihat album foto yang tergeletak di atas lemari. Berdebu, sudah lama tak kusentuh. Entah mengapa tertarik hati ini untuk mengambil album itu. Ku menarik kursi yang terletak di depan meja kerjaku dan dengan perlahan kubuka album. Mataku terus melekat pada sekeping foto. Abi, ummi dan aku sedang tersenyum bahagia. Aarghh… Andai saja aku bisa kembali ke masa lalu. Pikiranku terus berputar membuka kembali kenangan.
Ummi adalah seorng ustadzah yang alim, atau bisa juga dikatakan sholehah. Abiku juga seorang usztad. Mereka sangat dihormati dan dikagumi oleh banyak orang. Sering juga orang-orang ke rumah kami untuk meminta pendapat Ummi atau Abi. Ummi dan Abi mengajar di sebuah Pesantren yang berdekatan dengan rumah. Aku juga disekolahkan di Pesantren tersebut. Banyak pelajar yang menyukai Ummi dan Abi. Dan akulah yang paling bangga sebagai anak mereka satu-satunya. Abi pernah berjanji akan membawa Ummi dan aku ke Tanah Suci.
Setiap malam, akan terdengar suara anak-anak mengaji di rumahku, termasuk aku. Dan yang mengajari kami adalah orang yang selalu kubanggakan, yaitu Ummi dan Abi. Terkadang Abi juga akan menjadi Imam di masjid-masjid sekitar atau mengisi ceramah. Begitulah, hari demi hari kami lalui. Akhirnya tabungan Abi telah mencukupi. Dan tidak lama lagi kami akan menunaikan ibadah yang juga salah satu dari rukun Islam. Tetapi, niat suci kami tidak termakbul, Abi telah kembali ke Rahmatullah. Ummi tidak pernah menangisi kepergian Abi, malah Ummilah yang sering menasihati aku agar berhenti bersedih dan terus menghadiahkan Al-Fatihah buat Abi tercinta. Itulah Ummi. Beliau seorang yang sangat tabah dan pasrah akan ketentuan Ilahi.
Tetapi entah mengapa, setelah beberapa hari kepergian Abi, Ummi telah berubah. Perubahan yang sangat drastis. Bermula paada Subuh itu. Biasanya Ummi akan Shalat berjamaah dan berdoa bersama. Malah kami terkadang akan mengaji bersama. Tetapi subuh itu, aku melakukan semua itu sendirian. Lalu aku ke kamar Ummi, ternyata Ummi masih tertidur pulas. Yaa… mungkin terlalu capek, karena seingatku, Ummi pulang sangat lewat tadi malam. Takut habis waktu, maka dengan segera aku membangunkan Ummi. Ummi membuka matanya seraya berkata “aduhh… Ummi capek banget, ntar lagi aja.” Ummi menguap dan kembali menutup matanya. Aku terkejut, tidak percaya. Benarkah kalimat barusan itu keluar dari mulut seseorang yang selalu berzikir pada Yang Maha Esa? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak, tetapi hati bersihku kembali berkata, mungkin ummi masih sangat capek. Tanpa menunggu aku keluar meninggalkan Ummi yang masih terus pulas.
Setelah mandi dan berwudhu, aku menuju ke dapur untuk sarapan pagi. Hatiku tersentak melihat meja yang masih kosong. Biasanya, Ummi akan memasak sarapan pagi untuk dinikmati bersama. Aku ke kamar Ummi lagi, kukira Ummi sakit. Ternyata Ummi tidak ada di kamar, kasurnya tidak dirapikan. Aku pantas menolong Ummi untuk merapikan kasur beliau. Hatiku kembali berkata, mungkin Ummi sudah ke Pesantren. Aku hanya memakan kue yang didalam kulkas sebagai alas perut, lantas berangkat ke Pesantren untuk menuntut ilmu. Tetapi betapa khawatirnya aku ketika Ustadz Syamsul berkata bahwa Ummi tidak hadir untuk mengajar hari itu. Aku berpikir, lantas kemana juga ummi pergi?
Aku terjaga dari tidurku akibat bunyi pintu digedor. Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu untuk Ummi. Betapa terkejutnya hatiku… Astagfirullahal’adhim, inilah kali pertama aku melihat Ummi keluar tanpa berjilbab, tanpa seutas benang pun yang menutupi kepala Ummi. Mataku berkaca-kaca. Syaitan apa yang telah merasuki Ummi? Ummi langsung masuk dan duduk di atas sofa. Hatiku tidak tenang, langsung aku bertanya, ke mana Ummi pergi semalaman? Mengapa tidak mengajar hari ini? Mengapa keluar tanpa memberitahuku? Mengapa keluar tanpa berjilbab? Mengapa, mengapa dan mengapa? Arh, aku tidak tenang, tetapi Ummi dengan tenang menjawab, “nak, Ummi capek..”
“Nak kapan kamu mau menikah? Ummi dah nggak sabar menunggu lagi. Ummi udah carikan perempuan yang paling cocok buat Nadim. Dia manis lho, sexy juga banyak uang. Setelah kamu menikah, kita bakal hidup senang. Nadim nggak mau lihat Ummi bahagia?” tambah Ummi lagi sambil terus menatapku dangan pandangan yang mengharap.
Ya Allah, apa benar segala yang diucapkan Ummi barusan?
“Istighfar Mi, Istighfar. Ummi shalatlah dulu, agar tenang,” kataku. Mataku sudah berkaca, hatiku sesak. Aku kembali mengingat Abi.
“Aduhh.. kamu jawab dulu dong, mau nggak menikah sama perempuan pilihan Ummi?” tanya Ummi lagi.
“Kalau Nadim mau, besok Ummi akan menghubungi orang tuanya,” tambah Ummi lagi.
“Apa Nadim nggak mau lihat Ummi senang sebelum mati?” Hatiku semakin sesak. Setetes air mata mengalir dari mataku.
“Apa Ummi lupa, Ummi sendiri pernah bilang, jodoh itu di tangan Allah. Nadim hanya akan menikah dengan wanita muslimah. Bukan pilihan Ummi yang seksi dan banyak uang itu,” aku marah. Setelah menjawab pertanyaan Ummi, aku langsung ke kamarku. Aku berwudhu dan shalat, memohon ampun pada Sang Pencipta. Sambil menangis, aku terus berdoa. Meminta agar tunjuki jalan yang lurus buat Ummi dan diriku. Ternyata Ummi memperhatikanku di balik daun pintu.
“Maafkan Ummi, Nak!” ucap Ummi.
“Mohon maaflah pada Allah, bukan pada Nadim, Mi,” kataku. Lalu, Ummi shalat dan pada malam itu Ummi dan aku mengaji hingga Shubuh menjelang.
Itu merupakan cerita dulu. Sekarang Ummi juga telah menemani Abi di alam sana. Aku disini hanya bisa berdoa dan menghadiahkan Al-Fatihah bagi kedua orang tuaku. Aku menutup album foto dan meletakkannya di atas lemari. Tiba-tiba, suara seseorang mengagetkan lamunanku.Kulihat album foto yang tergeletak di atas lemari. Berdebu, sudah lama tak kusentuh. Entah mengapa tertarik hati ini untuk mengambil album itu. Ku menarik kursi yang terletak di depan meja kerjaku dan dengan perlahan kubuka album. Mataku terus melekat pada sekeping foto. Abi, ummi dan aku sedang tersenyum bahagia. Aarghh… Andai saja aku bisa kembali ke masa lalu. Pikiranku terus berputar membuka kembali kenangan.
Ummi adalah seorng ustadzah yang alim, atau bisa juga dikatakan sholehah. Abiku juga seorang usztad. Mereka sangat dihormati dan dikagumi oleh banyak orang. Sering juga orang-orang ke rumah kami untuk meminta pendapat Ummi atau Abi. Ummi dan Abi mengajar di sebuah Pesantren yang berdekatan dengan rumah. Aku juga disekolahkan di Pesantren tersebut. Banyak pelajar yang menyukai Ummi dan Abi. Dan akulah yang paling bangga sebagai anak mereka satu-satunya. Abi pernah berjanji akan membawa Ummi dan aku ke Tanah Suci.
Setiap malam, akan terdengar suara anak-anak mengaji di rumahku, termasuk aku. Dan yang mengajari kami adalah orang yang selalu kubanggakan, yaitu Ummi dan Abi. Terkadang Abi juga akan menjadi Imam di masjid-masjid sekitar atau mengisi ceramah. Begitulah, hari demi hari kami lalui. Akhirnya tabungan Abi telah mencukupi. Dan tidak lama lagi kami akan menunaikan ibadah yang juga salah satu dari rukun Islam. Tetapi, niat suci kami tidak termakbul, Abi telah kembali ke Rahmatullah. Ummi tidak pernah menangisi kepergian Abi, malah Ummilah yang sering menasihati aku agar berhenti bersedih dan terus menghadiahkan Al-Fatihah buat Abi tercinta. Itulah Ummi. Beliau seorang yang sangat tabah dan pasrah akan ketentuan Ilahi.
Tetapi entah mengapa, setelah beberapa hari kepergian Abi, Ummi telah berubah. Perubahan yang sangat drastis. Bermula paada Subuh itu. Biasanya Ummi akan Shalat berjamaah dan berdoa bersama. Malah kami terkadang akan mengaji bersama. Tetapi subuh itu, aku melakukan semua itu sendirian. Lalu aku ke kamar Ummi, ternyata Ummi masih tertidur pulas. Yaa… mungkin terlalu capek, karena seingatku, Ummi pulang sangat lewat tadi malam. Takut habis waktu, maka dengan segera aku membangunkan Ummi. Ummi membuka matanya seraya berkata “aduhh… Ummi capek banget, ntar lagi aja.” Ummi menguap dan kembali menutup matanya. Aku terkejut, tidak percaya. Benarkah kalimat barusan itu keluar dari mulut seseorang yang selalu berzikir pada Yang Maha Esa? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak, tetapi hati bersihku kembali berkata, mungkin ummi masih sangat capek. Tanpa menunggu aku keluar meninggalkan Ummi yang masih terus pulas.
Setelah mandi dan berwudhu, aku menuju ke dapur untuk sarapan pagi. Hatiku tersentak melihat meja yang masih kosong. Biasanya, Ummi akan memasak sarapan pagi untuk dinikmati bersama. Aku ke kamar Ummi lagi, kukira Ummi sakit. Ternyata Ummi tidak ada di kamar, kasurnya tidak dirapikan. Aku pantas menolong Ummi untuk merapikan kasur beliau. Hatiku kembali berkata, mungkin Ummi sudah ke Pesantren. Aku hanya memakan kue yang didalam kulkas sebagai alas perut, lantas berangkat ke Pesantren untuk menuntut ilmu. Tetapi betapa khawatirnya aku ketika Ustadz Syamsul berkata bahwa Ummi tidak hadir untuk mengajar hari itu. Aku berpikir, lantas kemana juga ummi pergi?
Aku terjaga dari tidurku akibat bunyi pintu digedor. Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu untuk Ummi. Betapa terkejutnya hatiku… Astagfirullahal’adhim, inilah kali pertama aku melihat Ummi keluar tanpa berjilbab, tanpa seutas benang pun yang menutupi kepala Ummi. Mataku berkaca-kaca. Syaitan apa yang telah merasuki Ummi? Ummi langsung masuk dan duduk di atas sofa. Hatiku tidak tenang, langsung aku bertanya, ke mana Ummi pergi semalaman? Mengapa tidak mengajar hari ini? Mengapa keluar tanpa memberitahuku? Mengapa keluar tanpa berjilbab? Mengapa, mengapa dan mengapa? Arh, aku tidak tenang, tetapi Ummi dengan tenang menjawab, “nak, Ummi capek..”
“Nak kapan kamu mau menikah? Ummi dah nggak sabar menunggu lagi. Ummi udah carikan perempuan yang paling cocok buat Nadim. Dia manis lho, sexy juga banyak uang. Setelah kamu menikah, kita bakal hidup senang. Nadim nggak mau lihat Ummi bahagia?” tambah Ummi lagi sambil terus menatapku dangan pandangan yang mengharap.
Ya Allah, apa benar segala yang diucapkan Ummi barusan?
“Istighfar Mi, Istighfar. Ummi shalatlah dulu, agar tenang,” kataku. Mataku sudah berkaca, hatiku sesak. Aku kembali mengingat Abi.
“Aduhh.. kamu jawab dulu dong, mau nggak menikah sama perempuan pilihan Ummi?” tanya Ummi lagi.
“Kalau Nadim mau, besok Ummi akan menghubungi orang tuanya,” tambah Ummi lagi.
“Apa Nadim nggak mau lihat Ummi senang sebelum mati?” Hatiku semakin sesak. Setetes air mata mengalir dari mataku.
“Apa Ummi lupa, Ummi sendiri pernah bilang, jodoh itu di tangan Allah. Nadim hanya akan menikah dengan wanita muslimah. Bukan pilihan Ummi yang seksi dan banyak uang itu,” aku marah. Setelah menjawab pertanyaan Ummi, aku langsung ke kamarku. Aku berwudhu dan shalat, memohon ampun pada Sang Pencipta. Sambil menangis, aku terus berdoa. Meminta agar tunjuki jalan yang lurus buat Ummi dan diriku. Ternyata Ummi memperhatikanku di balik daun pintu.
“Maafkan Ummi, Nak!” ucap Ummi.
“Mohon maaflah pada Allah, bukan pada Nadim, Mi,” kataku. Lalu, Ummi shalat dan pada malam itu Ummi dan aku mengaji hingga Shubuh menjelang.
Itu merupakan cerita dulu. Sekarang Ummi juga telah menemani Abi di alam sana. Aku disini hanya bisa berdoa dan menghadiahkan Al-Fatihah bagi kedua orang tuaku. Aku menutup album foto dan meletakkannya di atas lemari. Tiba-tiba, suara seseorang mengagetkan lamunanku.
“Mas. Ayo, sarapan.”
Kini aku mempunyai istri yang shalehah. Sosoknya persis seperti Ummiku dulu. Kini, barulah aku tahu mengapa Abi sering mengingatkanku agar selalu menghargai kaum Hawa. Aku tersenyum bahagia.

“Mas. Ayo, sarapan.”
Kini aku mempunyai istri yang shalehah. Sosoknya persis seperti Ummiku dulu. Kini, barulah aku tahu mengapa Abi sering mengingatkanku agar selalu menghargai kaum Hawa. Aku tersenyum bahagia.

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Nyak Sufriati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s