Amuk Telah Reda

Hatiku tetap pucat, tangisan-tangisan pilu merambah
Tersangkut dahan-dahan rebah, bola mata itu terpanah
Dalam lumpur, pekat, gelap, semua nyata menyatu
Ke dalam jasad-jasad kaku

 

Mataku beranjak redup, bersama matamu yang tertutup rapat
Kau dengar bisikanku?
Bisikan bayu menisik rerumputan
Ahad kelabu… hatiku tetap pucat
Entah kepada siapa aku menyapa?
Hampa rasa hadir dalam jiwaku

 

Aceh… 26 Desember 2004
Kota-kota, desa-desa, diguncang gempa
Terhenyak dalam rona pekat hitam
Rumah-rumah berlari bersama pohon
Dalam jeritan pilu menyayat
9 penjuru mata angin bercerita luka dan nara
Di sisa-sisa bongkah senja rembang
Membayang redup-redup
Mencari suluh tangis ngilu di akhir tahun
Menjelma bagaikan hantu di kegelapan malam

 

Ku dengar desah-desah nafas dalam igau doa
Parau…
Mataku redup tak bercahaya
Di kota inikah duka disunting?
Duka yang tak sempat kuceritakan pada mata tertutup itu!

 

Tak ada muara tempat kita bersua
Bumi masih basah… masih apa segala?
Gelap, masih gugup dalam cakap bisu
Hanya rerumputan menyambut rebah
Pada batang pohon tersangkut
Bagai bangsi terbauh di sisi

 

27 Desember 2004
Afwadi 

About My School Editor

Fajar Hidayah is My School!
This entry was posted in Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s