Keajaiban Cinta di Ufuk Barat

Alvi Rizka Aldyza

Salsa merenungi nasibnya. Ia menderita. Tak sanggup menghadapi kenyataan yang diberikan dari Yang Maha Kuasa. Sebagai pelajar berumur 16 tahun, tentu saja ia punya cita-cita yang harus dicapai bila ia berumur panjang. Siapa yang tak mau cita-citanya terwujud??

Salsa, gadis remaja yang mengidap penyakit kanker otak stadium 3, akibat kecelakaan beruntun ketika ia bertamasya ke rumah pamannya setahun yang lalu(benarkah kanker disebabkan oleh kecelakaan? Cb brikan alasan logis) . Papanya meninggal dunia dengan keadaan tragis, sedangkan ia masih selamat meski harus koma selama 2 minggu dan rawat inap rumah sakit selama 2 bulan. Kini, ia memakai kursi roda. Untung saja, masih ada orang-orang di sekelilingnya yang sangat mendukungnya seperti Mama, Bi Ija (pembantu) dan Ririn, sahabat baiknya. Sehingga Salsa masih mempunyai semangat hidup walaupun hanya sepenggal asa yang tersisa dalam hatinya.

Walaupun sudah menjalani berbagai terapi dan pengobatan di Australia dan Malaysia, tetap tidak membuahkan hasil yang maksimal. Kini penyakitnya bertambah parah, ditambah lagi ia tak lagi bersekolah. Jika ada Ririn di sampingnya, ia merasa seperti di sekolah sebab Ririn 2 hari sekali menjenguknya secara rutin sambil menerangkan pelajaran dari sekolah. Meski berat, Salsa tetap bersyukur pada Allah Swt.

Hari ini hari Senin. Seperti biasa, Mama berangkat ke kantor. Disaat seperti ini, Salsa sering mengambil buku dan pulpen lalu menulis apa yang ia sukai. Hari ini, ia berniat menulis surat untuk Ririn, sebab Ririn akan datang menjenguknya siang ini. Lucunya, surat ini gak pake tukang pos atau semacamnya, melainkan Salsa memberikannya langsung pada Ririn saat Ririn datang ke rumahnya. Barulah Salsa menceritakan pengalamannya selengkap mungkin.

Jarum jam menunjukkan pkl. 14.10. Ririn sudah sampai di rumah Salsabila. Mereka shalat dan makan siang bersama dengan Mama. Salsa tampak ceria. Lalu, Salsa masuk ke kamar diiringi dengan Ririn.
Ririn menceritakan semua yang terjadi di sekolah hari ini. Mulai dari Icha yang tak sengaja bertabrakan dengan Ibu Kepala Sekolah, Ahmad yang sibuk dengan Facebooknya, Ais yang menghabiskan uang hanya untuk membeli es krim kesukaannya, sampai ke Idris yang mempromosikan buku barunya kepada teman-temannya. Kemudian, giliran Salsa yang bercerita. Mulai dari menyerahkan surat lalu menceritakan isi surat itu.

Setelah ngobrol panjang dan bercanda, Salsa bertanya.
“Rin. Aku mau tanya nih.. tapi kamu jawab jujur ya..” Ririn mengangguk dua kali.
“Begini, Rin. Aku sangat senang kamu bisa mengunjungiku secara rutin 2 hari sekali. Tapi, apa kamu gak capek, atau jangan-jangan kamu terpaksa karena kamu sudah janji dan gak mau mengingkarinya??” Salsa menatap Ririn dalam-dalam. Ririn menunduk pelan.
“Jawab, Rin!!”
“Aku sedih…”
“Sedih… kenapa??”
“Aku sedih kamu meragukan kebaikanku sebagai sahabatmu.” Kini Salsa yang menunduk dan Ririn yang menatap Salsa.
“Aku…gak…. Bermaksud untuk…”
“Sa… kita udah bersahabat cukup lama. Aku udah mengerti semua tentang kamu. Aku menjenguk kamu 2 hari sekali, dan itu sedikit pun tidak merepotkanku. Bahkan, ketika 1 hari aku tidak menjengukmu, aku terus memikirkanmu, kesehatanmu, kondisimu, dan aku takut kamu kenapa-napa. Apa kamu masih meragukan ketulusanku??”
Mata Ririn berkaca-kaca. Begitu juga dengan Salsa.

“Aku melakukan semua ini ikhlas Sa. Karena aku sayang sama kamu. Aku mau terus bersamamu, menghabiskan waktu luangku untuk melihat semangat hidupmu yang tak ku temukan pada orang lain. Sa, apapun yang ada di pikiranmu, jangan lupakan Sang Pencipta. Apapun yang ada di benakmu, jangan lupakan aku. Ceritakan semuanya. Bahkan sampai kamu kehabisan kata-kata. Bahkan sampai aku tertidur mendengar semuanya. Sa, percayalah aku sebagai sahabatmu yang setia. Yakinlah.. kalau kita selalu bersama..”
Ririn memegang pundak Salsa. Ia menangis sesenggukan.
“Sudah Sa. Jangan terlalu dipikirkan. Aku tetap disini untukmu. Mmm.. kita liat si Sari yuk!!”
Salsa mengangguk sambil tersenyum. Sari adalah gabungan dari Salsa dan Ririn, nama kelinci betina yang ada dirawat di rumah Salsa. Mereka menghabiskan waktu bersama ditemani oleh Sari yang berlari kesana kemari. Mama mengintip dari balik jendela dengan seulas senyum. Senyum bangga karena buah hati semata wayangnya masih bisa menikmati hidup dengan ceria.
Senja tiba. Waktunya Ririn untuk pamitan. Lalu ia mencium kening Salsa dengan lembut.
“See you!!”
“Terlalu singkat menikmati waktu denganmu, Rin,” ujar Salsa. Ririn hanya tersenyum. lalu, ia lenyap di balik pintu.
Salsa kembali ke kamar. Mengingat kembali memori yang ada. Tiba-tiba kepalanya sakit.
“Aaaa…. Ma.. Mama.. Sakit..”
Mama panik dan segera lari ke kamar Salsa.
“SALSA!!” teriak Mama. Salsa tergeletak di lantai tak berdaya. Ia pingsan. Salsa segera dibawa ke rumah sakit.

Langkah Ririn tak dapat dikontrol. Ia panik bukan main mendengar kondisi Salsa setelah dihubungi. Ia bertemu dengan Mama Salsa. Mamanya menceritakan pemberitahuan dokter dengan tangis terisak-isak bahwa kondisi Salsa semakin parah. Ia koma. Otaknya berfungsi tak stabil. Dokter tidak tau harus bagaimana. Ririn tersentak mendengar semuanya. Ia tak menyangka ini akan terjadi.
“Rin.. dokter juga bilang kalau waktu Salsa untuk hidup tidak lama lagi… Hiks.. hiks…” ujar Mama lagi.
“ENGGAK!! Itu gak mungkin !! Salsa gak boleh pergi dulu.. Enggak!!” Ririn berteriak tak percaya.
Pandangan masing-masing tertuju pada sosok tubuh yang berbaring lemah di atas ranjang, menatap menangis pilu bagai disayat sembilu. Hati tak tenteram, menunggu saat-saat menyedihkan akan terjadi. Salsa tergeletak tak berdaya. Suatu malam..
“Ya Allah… Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan-Mu. Aku ingin melihat wajah-Mu. Aku ingun berada disisi-Mu Ya Allah.. panggil aku Ya Allah.. Jemput aku secepatnya…!!” Salsa mengigau… mamanya kaget dan menangis.. Tapi, beliau tidak membangunkan Salsa.

3 minggu kemudian..
Salsa siuman. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya pucat, matanya sayu. Dokter bilang, ia harus tetap dirawat di rumah sakit untuk mendapat hasil yang lebih optimal.
Keesokan harinya, Ririn menjenguk Salsa. Di luar, ia bertemu dengan Mama Salsa. Beliau menceritakan bahwa Salsa mengigau dan ngelantur seolah akan pergi. Ririn hanya menunduk terdiam lalu masuk menjenguk Salsa.

“Assalamu’alaikum Sa…” Mereka pun mengobrol. Tetapi, meski kondisi sedang kritis, Salsa tampak ceria. Ririn berjanji untuk menemaninya seharian.

Suatu petang, Salsa mengajak Ririn untuk keluar menemaninya menikmati Sunset (matahari terbenam). Ririn mengiyakan. Setiba di sana…

“Rin.. aku gak tau. Tapi, aku merasa waktuku sudah dekat. Aku gak sanggup lagi untuk hidup. Aku merasa udah tiba saat…” ucap Salsa di atas kursi rodanya.

“Gak!! Jangan ngomong gitu.. aku gak mau dengar. Kamu masih bisa hidup. Buktinya, kamu masih ada disini bersamaku Sa..” Ririn mulai mengeluarkan air mata.

“Rin.. aku yakin aku diberi kesempatan oleh Allah untuk berpamitan denganmu dan Mama. Ini sisa-sisa hidupku. Inilah saat-saat terakhir kita. Aku mau bilang kalau kamu sahabat sekaligus saudara terbaik yang pernah ada, yang pernah aku miliki. Kamu menerima segala kelebihan dan kekuranganku. Dikala aku sedih kamu ada, aku senang kamu pun hadir. Kamu selalu ada disaat aku membutuhkanmu. Kamu yang terbaik, Rin. Rin, aku menyayangimu dan mencintaimu sebagai saudaraku..Oya, jaga Sari baik-baik ya.. aku gak sempat mengurusinya lagi..”

Sa,, please.. jangan ngomong gitu.. kamu harus berusaha untuk tetap hidup.. hiks.. kamu juga sahabat terbaik yang aku miliki… aku juga menyangimu lebih dari yang kau kira. Aku mencintaimu lebih dari sekedar saudara. Jadi tolong jangan pergi dulu, Sa. Tetaplah bersamaku.. Hiks.. Hiks..”

Matahari mulai terbenam. Di belakang, tampak Mama menyusul.
“Sunset!!” ucap Ririn. Sejenak Salsa menatap mentari yang berwarna oranye itu.
“Rin, aku pikir tiba saatnya kita untuk berpisah. Ajal makin dekat. Aku bisa merasakannya. Tapi setidaknya, aku masih bisa melihat indahnya matahari terbenam di ufuk barat. Ini keajaiban Rin.”
“Sa!! Aku mohon jangan, Sa.. Mama mau menghampirimu!!”

“Aku rasa tak ada kesempatan untuk bertemu Mama lagi. Rin, ucapkan salam sayangku kepada semua orang, terutama Mama. Good Bye Rin.….” Salsa mulai kesakitan. Ia merintih menahan perih..
“Sa!! Jangan tinggalin aku Sa!! Sa!! Salsa!!” Ririn menangis berteriak sambil mengguncang tubuh Salsa.
Takdir tak dapat dielakkan. Salsa menjawab panggilan Sang Ilahi Rabbi. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…
“SALSA….!!!!!” Ririn berteriak sekeras mungkin sambil memeluknya. Ia menangis sekuat mungkin hingga mentari tak sanggup mendengarnya dan terbenam di ufuk barat. Salsa telah pergi. Untuk selamanya…
“Selamat tinggal, Salsa. Kamu selalu ada dihatiku!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s