Yayasan Fajar Hidayah

Fajar Hidayah Menerangi Kota Wisata Cibubur

Tgl. publikasi: 2/3/2001 18:16 WIB
Bagi H. Mirdas (30 tahun), mendirikan sekolah di Kota Wisata Cibubur boleh
dibilang tak direncanakan. Idenya muncul mendadak. Awalnya ia dan istrinya,
Hj. Draga Rangkuti hanya bercita-cita mendirikan sekolah TK yang sederhana
di atas tanah miliknya seluas 3000 meter persegi di kawasan Ragunan.
Sekitar bulan Nopember 1998, H. Mirdas dan istrinya jalan-jalan ke Kota
Wisata Cibubur. Di Kota yang cukup megah itu mereka menemukan sekolah
Kristen Bunda Hati Kudus (BHK), sementara ia tak menemukan sekolah Islam di
tempat itu. Padahal 70 persen penghuninya beragama Islam. Maka terbetiklah
niat mendirikan sekolah Islam di Kota Wisata itu.

Niat H. Mirdas dan istrinya untuk mendirikan sekolah Islam makin kuat,
setelah ia tahu bahwa penghuni Kota Wisata menginginkan berdirinya sekolah
Islam di kawasan itu. Bahkan beberapa penghuni ada yang ingin menjual
kembali rumahnya dan pindah ke tempat lain.

Sebenarnya, sebelum itu pihak developer pernah menawarkan kepada beberapa
sekolah Islam yang sudah terkenal, seperti Al-Azhar, Al-Ikhlas, dan
lain-lain. Namun karena saat itu kondisi perekonomian sedang buruk alias
krismon, pihak Al-Azhar maupun yang lainnya tak memberikan respons positif.

H. Mirdas dan Istrinya lalu menemui bagian pemasaran Kota Wisata dan
menyampaikan niatnya itu kepada mereka. Ternyata mereka menyambut baik niat
itu, meski pada awalnya pihak developer tidak menyiapkan lahan untuk
mendirikan sekolah Islam. Sekitar bulan Desember 1998, H. Mirdas dipanggil
pihak developer untuk membicarakan niatnya mendirikan sekolah Islam. Dalam
pembicaraan itu, pihak developer menawarkan harga tanah Rp 700 ribu per
meter persegi kepada H. Mirdas. Dengan perasaan berat, H. Mirdas mengatakan
bahwa jangankan Rp 700 ribu, Rp 100 ribu per meter persegi pun ia tak
mampu. Ia menjelaskan bahwa secara finansial dirinya tak memiliki dana
banyak, tapi secara soft ware ia punya. Akhirnya pihak developer mengambil
kebijakan bahwa lahan yang akan didirikan sekolah Islam itu dijadikan
fasilitas umum dan fasilitas sosial yang kemudian diserahkan kepada Pemda
setempat. H. Mirdas diminta untuk bekerjasama dengan Pemda.

Alhamdulillah, satu masalah terselesaikan. Tapi, dari mana saya memperoleh
dana untuk membangun sekolah Islam itu? Mungkin pertanyaan itulah yang
memenuhi H. Mirdas dan istrinya pada waktu itu. Dengan hati yang penuh
tawakal, mereka mulai mengumpulkan dana untuk membangun sekolah Islam yang
dicita-citakan itu.

Pada April 1999, H. Mirdas dengan Yayasan Fajar Hidayah (YFH) yang
didirikan pada medio 1998 mulai membangun sekolah Islam di atas tanah
seluas 3,5 hektar. Pihak developer meminta agar YFH membangun sekolah dari
playgroup sampai SMU. Pihak developer pun memberikan kemudahan dalam soal
perizinan pembangunan sekolah Islam itu.

Pembangunan baru dimulai, tiba-tiba pihak developer meminta supaya bangunan
sekolah dapat digunakan pada bulan Juni tahun itu juga. H. Mirdas pun
menjelaskan bahwa tidak mungkin dalam waktu dua bulan bangunan sekolah bisa
digunakan. Mungkin karena tuntutan warga, akhirnya pihak developer
meminjamkan ruko untuk dijadikan sekolah sementara.

Atas permintaan pihak developer, akhirnya YFH mulai menyiapkan software
pendidikan. Dalam menyiapkan tenaga pengajar, YFH bekerjasama dengan
Lembaga Da’wah Al-Falah Bendungan Hilir, sementara dalam hal kurikulum
bekerjasama dengan Nurul Fikri. Dengan pertologan Allah, akhirnya dalam
waktu dua bulan YFH berhasil mempersiapkan semuanya dengan baik.

Di Ruko Sekolah Dimulai

Berdasarkan riset kasar yang dilakukan, YFH memperkirakan hanya 20 siswa
saja yang akan mulai sekolah di YFH. Namun diluar dugaan, yang mendaftar
malah mencapai 100 orang, padahal promosinya hanya melalui spanduk yang
dipajang di pinggir jalan dan brosur-brosur yang disebarkan di sekitar
Cibubur. Akhirnya pihak developer meminjamkan dua ruko lagi, sehingga
semuanya menjadi tiga ruko.

Ibu Draga merasa bersyukur dengan masuknya 100 siswa itu, karena merasa
dibantu dalam sisi permodalan, dalam artian biaya operasionalnya dapat
ditutupi oleh para orang tua murid. Sehingga fokus mereka hanya pada
pendanaan pembangunan gedung sekolah itu.

Rencana pembangunan pun berubah. Semula YFH hanya ingin membangun satu atau
dua gedung saja. Tapi karena tingginya respons dari warga Kota Wisata dan
masyarakat sekitarnya, dibangunlah gedung yang menurut kami cukup megah.
“Gedung yang ada sanggup menampung 600 murid,” tutur Hj. Draga.

Latar Belakang Berdirinya Yayasan Fajar Hidayah (YFH)

Yayasan Fajar Hidayah pada bulan Agustus 1998, ketika itu H. Mirdasa masih
aktif di Lembaga Da’wah Al-Falah, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Lahirnya
YFH dilatarbelakangi keinginan untuk melakukan terobosan-terobosan da’wah
di kalangan pengusaha Muslim. Dan itu diperlukan lembaga yang menaunginya.
Sementara di A-Falah sendiri sudah terlalu banyak orang.

Nama Fajar Hidayah diusulkan oleh H. Mirdas. Menurut H. Mirdas Fajar
Hidayah mengandung tiga makna; namanya mengandung arti kebaikan, ada unsur
Islamnya tapi tidak ekstrim, dan tidak norak. Filosofinya, diharapkann
fajar dapat menerangi semua aktifitas dalam YFH, sekaligus memberikan
hidayah kepada orang-orang yang ada di dalamnya.

Permodalan

Hingga saat ini YFH belum menggandeng investor luar untuk mendanai
operasional YFH. Hal itu bukan berarti YFH tidak mau bekerjasama dengan
pihak lain. “Kami membuka seluas-luasnya bagi para pengusaha Muslim yang
ingin menginvestasikan modalnya di YFH,” turur Hj. Draga. Meski demikian,
tujuan utama YFH adalah bukan pada sisi bisnisnya, tapi pada sisi da’wah
Islamnya. “Kalau kita menjalankan Islam dengan baik, maka rezeki itu akan
datang dengan sendirinya,” ujar H. Draga dengan yakin.

Tantangan Kualitas

Selama lebih kurang dua tahun mengelola pendidikan Islam di Kota Wisata,
hambatan utama yang dialami YFH adalah soal kepercayaan baik dari
masyarakat maupun dari para staffnya. Masyarakat di Kota Wisata dan
sekitarnya masih ada yang memandang aneh dengan busana Muslimah yang
dikenakan para pengurus dan staff YFH. “Aliran apa ini, kok pakaiannya
kerudung semua,” kata Hj. Draga memberi salah satu contoh. Sedangkan para
staffnya masih ada yang meragukan kemampuan H. Mirdas dan istrinya dalam
membangun sekolah yang besar itu. Menghadapi masalah itu Hj. Draga siap
memberikan penjelasan kepada warga yang masih ragu dengan kualitas
pendidikan di Sekolah Fajar Hidayah.

Menurutnya, beda Fajar Hidayah dengan sekolah-sekolaj yang lain adalah
dalam mengaplikasikan materi ke-Islaman, dimana di Fajar Hidayah Islam
bukan sekedar materi, tapi aplikasi. H. Mirdas mencontohkan bila ada dua
siswa berkelahi, maka kepada mereka diberitahukan nilai-nilai Islam dengan
hadist, “Janganlah marah, bagimu surga.” Setelah itu keduanya diminta untuk
berpelukang. Dengan pelajaran ini, anak anak dibiasakan dengan budaya
Islam.

Contoh lain, suatu hari siswa-siswi TK Fajar Hidayah mendengarkan ceramah
seorang ustadz. Di sela-sela ceramah, sang ustadz minum sambil berdiri.
Lalu dari arah belakang ada siswa yang berkata mengutip sebuah hadis,
“Janganlah kamu minum sambil berdiri.”

H. Mirdas juga menjelaskan, di Fajar Hidayah siswa di arahkan untuk
menguasai dua bahasa, Inggris dan Arab, sehingga selepas sekolah mereka
dapat melanjutkan keluar negeri baik ke Eropa maupun ke Timur Tengah.
Selain itu siswa juga diarahkan untuk mengusai materi Al-Qur`an sekaligus
menghayati dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi
iptek, Fajar Hidayah mencoba mengenalkan komputer pada siswa sedini
mungkin.

Program-program Lainnya

Fajar Hidayah juga mengadakan program untuk orangtua berupa kajian-kajian
Islam dari Senin hingga Jum’at, dengan materi yang bervariasi. Senin-Selasa
bahasa Arab, Rabu Tafsir, Kamis Fikih, dan lain-lain. Program ini mendapat
respons positif dari orangtua.

Fajar Hidayah juga membentuk Pusat Divisi Islam yang bertujuan untuk
mensosialisasikan Islam di lingkungan sekitar sekolah dengan menjadikan
divisi ini sebagai sarana untuk pelayanan da’wah, pelayanan umat, pusat
latihan, dan ada pelayanan pendidikan bagi masyarakat.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, YFH selalu mengadakan pelatihan
peningkatan kualitas guru, baik dalam bidang Bahasa Inggris, Bahasa Arab,
dan komputer. Sehingga diharapkan para guru terus meningkat kemampuannya.
(sh/ant)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s